Senin, 11 Agustus 2014

Nama unik Arachnida troglobion

Troglobion adalah biota khas gua yang hanya hidup di dalam gua. Sebuah lingkungan yang gelap, lembab, dan cenderung ekstrim. Kelas Arachnida adalah salah satu kelompok hewan yang menyumbang cukup banyak jenis troglobion. Hewan bertungkai delapan ini kerap menunjukkan ciri-ciri troglomorfisme (karakter morfologi khas gua) yang kuat, seperti reduksi mata dan pigmen, pemanjangan alat sensor dan alat gerak, dan modifikasi pada organ penghasil benang. Adaptasi yang terdapat pada jenis troglobion tidak hanya berlaku pada morfologi saja, tetapi juga dibarengi perubahan aspek fisiologis dan perilakunya.

Selain keunikan pada morfologi, fisiologi, dan perilakunya, beberapa arachnid troglobion ternyata memiliki nama-nama yang unik. Nama unik ini bisa pada nama latin, maupun nama umum/lokal. Berikut beberapa jenis yang menurut saya memiliki nama yang unik:

1. Apochthonius mysterius
(Pseudoscorpiones: Chthoniidae)
Jenis ini termasuk dalam kelompok kalajengking palsu (Bangsa Pseudoscorpiones). Nama A. mysterius mungkin bisa membuat orang bertanya-tanya, semisterius apa hewan tersebut? Ups, jangan salah, tidak ada yang aneh dengan pseudoscorpion yang satu ini. Nama 'mysterius' sebenarnya diadopsi dari nama sebuah gua di Minnesota. Gua Mystery adalah salah satu gua panjang di Amerika, di mana A. mysterius ditemukan di dalamnya. Tetapi kalau Anda bertanya mengapa gua itu dinamai Gua Mystery, maka saya jawab tidak tahu. Karena saya belum pernah ke sana dan bertanya kepada orang-orang di sana.

2. Adelocosa anops
(Araneae: Lycosidae)











A. anops (Sumber Foto: arkive.org)

Keunikan dari jenis ini terletak pada nama umumnya (common name), di mana jenis ini sering disebut 'no eyed -big eyed wolf spider'. Nama yang nampak saling bertentangan. 'Big eyed wolf spider' merujuk pada nama umum kelompok laba-laba yang termasuk Suku Lycosidae ini. Sementara nama 'no eyed' diberikan karena jenis ini mengalami reduksi ekstrim pada matanya, sampai hilang sama sekali. A. anops hidup di gua vulkanik di Pulau Kaua'i, Kep. Hawai. Jenis ini dimasukkan dalam daftar merah jenis terancam punah, IUCN sebagai jenis dengan kategori genting.

3. Sinopoda scurion
(Araneae: Sparassidae)










S. scurion (Foto oleh Peter Jager / wired.co.id)

Keunikan jenis ini terletak pada nama penunjuk spesies 'scurion'. Nama laba-laba yang ditemukan di Laos itu diambil dari nama sebuah perusahaan produsen headlamp (lampu kepala) asal Swiss, Scurion. Produk headlamp ini cukup terkenal di kalangan penelusur gua. Itu karena ketangguhannya. Konon harganya juga lumayan menguras kantong.

4. Amauropelma matakecil
 (Araneae: Ctenidae)














A.  matakecil (Foto oleh Sidiq Harjanto)

Jenis yang satu ini adalah wakil dari negeri kita. Jenis ini memiliki mata yang telah jauh mereduksi dan hanya menyisakan bintik-bintik kecil. Karena itulah jenis ini kemudian dinamai 'matakecil' sebagai penunjuk spesies. Laba-laba ini hanya ditemukan di beberapa gua di kawasan karst kecil di Pegunungan Menoreh.

Itulah beberapa jenis arachnid troglobion yang menurut saya memiliki nama-nama yang unik.

Rabu, 04 Desember 2013

Si penyusup

 Argyrodes sp. pada jaring N. malabaricus (Foto Sidiq Harjanto)

Adalah Argyrodes (Suku Theridiidae), marga laba-laba yang kebiasaan hidupnya menyusup ke sarang laba-laba jenis lain, dan mencuri makanan yang tesangkut pada jaring mereka. Kebiasaan ini disebut 'kleptoparasit'. Jenis-jenis anggota marga ini termasuk kosmopolit, dan umumnya berukuran relatif kecil.

Saya pernah menjumpai dan mendokumentasikan salah satu jenis Argyrodes yang warnanya merah. Jenis ini hidup berdampingan, berbagi sarang dengan nephilid Nephilengys malabaricus.

Minggu, 06 Oktober 2013

Bathippus sp. (Salticidae). Foto Sidiq Harjanto

Selasa, 04 Desember 2012

Si cantik yang mematikan

Teman saya telah mengirimkan foto spesimen laba-laba yang telah rusak. Gigitan laba-laba ini dilaporkan menyebabkan sakit yang luar biasa hingga kelumpuhan selama beberapa hari. Saya langsung tertarik dengan foto tersebut, karena meskipun telah rusak, cukup jelas bahwa laba-laba itu dari Suku Theridiidae. Dalam kelompok ini terdapat si laba-laba janda dari Amerika (Latrodectus mactans) yang gigitannya dapat mengakibatkan kematian.

 Beberapa hari kemudian saya mengunjungi tempat asal spesimen tersebut dikoleksi. Seorang ibu (saya lupa nama beliau) bersama suami dan anaknya membantu saya mencari laba-laba yang menurut informasi banyak dijumpai di tempat itu. Sambil mencari, beliau bercerita bahwa pada musim-musim tertentu banyak sekali laba-laba bersarang di lahan pertanian. Pada saat itu juga, banyak petani yang tergigit dan harus dirawat di rumah sakit. Biasanya karena tanpa sengaja memegang si laba-laba atau mengusik sarangnya.

 
Setelah beberapa saat berkeliling ladang, akhirnyaaa... Satu sarang yang masih aktif pun ditemukan di rerumputan. Saya mencoba mengamati si delapan tungkai itu dari dekat sambil mengambil beberapa foto. Dia cantik, tubuh dan tungkai-tungkainya dominan berwarna hitam. Ada warna merah di bagian punggung, sekilas seperti tanda panah dari bagian belakang ke depan. Di bagian ventral ada tanda menyerupai 'jam pasir' yang juga berwarna merah. Si cantik ini dengan anggun menjaga 3 kantong telur di sarangnya yang tidak beraturan. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, laba-laba ini saya yakini dari Marga Latrodectus. Saya mengoleksi laba-laba itu berikut telur-telurnya.


Saya buka literatur dari artikel dan beberapa situs internet, mencoba mengidentifikasi jenis laba-laba misterius tersebut. Saya tidak berani memberi memastikan jenis laba-laba yang bertanggungjawab atas gigitan menyakitkan para petani. Tetapi dugaan saya mengarah ke Latrodectus hasselti. Di literatur disebutkan jenis ini native benua Australia, meskipun populasi-populasi kecil ditemukan juga di New Zealand, Jepang, dan beberapa negara lainnya sebagai spesies introduksi.

Jika benar spesimen yang saya koleksi tersebut adalah L. hasselti, bagaimana mereka sampai di sini? Di tanah Jawa?


 *didedikasikan untuk semua korban gigitan laba-laba*

Lebih dari satu tahun tak tersentuh..


Heran...
Tadi malam tiba-tiba teringat, loh saya kan punya blog..kok bisa lupa yaa..
Terus saya buka blog ini dan hmm, sedikit demi sedikit semangat saya untuk menulis mulai tumbuh.
Baiklah, kita mulai lagi. Dunia delapan tungkai selalu menarik, dan semoga akan ada banyak hal baru di depan sana.

Minggu, 20 Maret 2011

Cave Spider Survey: gua wisata

Narsis doang...setelah berjam-jam nunak-nunuk mengamati si laba-laba gua

Sustainable tourism for the cave spider

Kegiatan wisata gua merupakan salah satu contoh bagian dari nilai ekonomis kawasan karst. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah kegiatan wisata gua harus dilakukan dengan mengedepankan keselamatan baik wisatawan/pelaku kegiatan, maupun gua itu sendiri beserta isinya. Keselamatan gua dan isi di dalamnya hanya dapat dijaga dengan dasar riset yang kuat dan komprehensif, artinya data yang dibutuhkan bersifat menyeluruh dan valid secara ilmiah.

Sebagai contoh, laba-laba buta Menoreh, yang salah satu habitatnya adalah gua (yang telah dikembangkan untuk kegiatan) wisata, tentunya memiliki resiko lebih tinggi terhadap ancaman khususnya kerusakan habitat.

Diperlukan pengelolaan ekstra hati-hati jika kita menginginkan spesies bernilai ilmiah ini tetap lestari.

Sabtu, 12 Maret 2011

Kill Nothing but Time


Sebuah pesan sederhana buat penggiat penelusuran gua (caver).

Troglobit, mereka hidup dalam lingkungan sangat stabil. Sedikit saja perubahan pada habitat mereka, akan sangat membahayakan kehidupan mereka.
Sedikit tips, khususnya untuk troglobit terestrial, lebih khusus lagi laba-laba buta Menoreh:
1. Pastikan kegiatan penelusuran anda benar-benar PENTING. Kegiatan dengan tujuan rekreasi, latihan, atau sejenisnya dapat dilakukan di gua wisata/ gua dengan tingkat resiko kerusakan rendah.
2. Batasi JUMLAH personel. Semakin banyak anggota tim, akan mempertinggi resiko kerusakan habitat troglobit.
3. Pastikan aktivitas Anda aman, perhatikan saat Anda berjalan, merayap, istirahat di tempat yang BENAR. Jangan sekali-sekali MEROKOK, membuang sampah, dan melakukan aktivitas tidak perlu di dalam gua, usahakan memakai penerangan elektrik untuk lorong-lorong yang jauh dari mulut gua.
4. Karakteristik habitat laba-laba gua: lorong-lorong dalam yang lembab, biasanya dekat aliran sungai kecil/ genangan perkolasi. Kenali habitat mereka dan BATASI akses ke lorong-lorong seperti disebut di atas.
5. Buat laporan/ catatan jika ada temuan baru di gua yang Anda telusuri.

Jangan sampai tindakan KONYOL karena KETIDAKTAHUAN kita menjadi MALAPETAKA bagi kehidupan di gua yang BERNILAI TINGGI!!

Salam

Sabtu, 12 Februari 2011

Laba-laba dalam statistik

Laba-laba, sebuah bangsa hewan yang memiliki anggota sangat banyak. Mereka terdistribusi ke seluruh penjuru bumi, ke berbagai habitat, dan memiliki berbagai cara hidup.

Dalam katalog World Spider Catalog Platnick, saat ini Bangsa Araneae (laba-laba sejati) beranggotakan 110 famili/suku yang telah diakui kevalidannya. Dari sejumlah itu, jumlah jenis yang diketahui adalah 42. 055 jenis. Berikut ini adalah gambaran komposisi jenis-jenis laba-laba di seluruh dunia, dengan 9 suku yang memiliki anggota paling banyak.

Prosentase jumlah jenis laba-laba didunia (menurut Katalog Platnick).

Dari gambar di atas diketahui bahwa Salticidae merupakan suku yang memiliki jumlah jenis anggota terbesar, saat ini meliputi 5337 jenis atau menyusun kurang lebih 13 % dari seluruh laba-laba yang telah diketahui. Tempat kedua diduduki Lyniphiidae, disusul Araneidae di tempat ke tiga. Laba-laba pemburu Lycosidae menempati posisi ke empat.

Salticidae, suku yang menempati urutan pertama dalam hal jumlah jenis anggota. Foto Sidiq Harjanto

Jumat, 31 Desember 2010

Tahun Baru ala 8tungkai

Setahun lebih DELAPANTUNGKAI bertualang menembus belantara, menelusuri lorong-lorong gelap perut bumi, hingga merawat beberapa makhluk bertungkai delapan dengan segenap harapan untuk berkontribusi dalam menguak fakta seberapa kaya bangsa ini akan laba-laba dan kerabatnya. Suka, duka, gundah, dan sejuta perasaan lain pernah menghinggapi DELAPANTUNGKAI. Teringat saat suatu malam harus berjuang menembus gelap malam untuk berburu Stygophrynus dammermani versi epigean, saat berjuang mati-matian menulis surat elektronik berbahasa Inggris hingga akhirnya terjawab sudah laba-laba kuning itu sebagai Platythomisus octomaculatus, dan saat-saat merawat Hyllus diardi.

Semua yang telah dilalui belumlah sebanding dengan kekayaan arachnofauna Indonesia. Dan di akhir tahun 2010 ini, sebuah harapan baru muncul. Semoga di tahun yang akan datang, semangat mengeksplor masih tetap menyala. Dan semoga DELAPANTUNGKAI akan terus menjadi bagian dari perlaba-labaan di negeri ini. Dengan laba-laba mari kita tumbuhkan kecintaan terhadap negeri yang sangat kaya ini...!

SELAMAT TAHUN BARU 2011...
Jayalah Arachnologi Indonesia!!


Sabtu, 13 November 2010

Bidadari kegelapan, troglobit bertungkai delapan: si cantik yang rapuh


 A. matakecil, dewasa (Foto Sidiq Harjanto)

Lingkungan ekstrim sangat menarik untuk dipelajari dari sisi biologi, salah satunya gua. Dalam tulisan ini, gua oleh penulis diartikan sebagai suatu dimensi lingkungan, sehingga termasuk di dalamnya lubang-lubang subteranean dengan kondisi lingkungan yang mirip. Belajar tentang biologi gua, sering ditemui istilah troglobit. Istilah ini merupakan sebutan bagi organisme gua yang menjalani seluruh siklus hidupnya di dalam gua, dan tidak ditemukan di habitat lainnya. Sebagian besar dari kelompok ini memiliki morfologi yang telah mangalami adaptasi dalam lingkungan gua yang ekstrim (troglomorfik), misalnya pengembangan organ sensori kemo-taktil. Mata tidak diperlukan dalam kondisi lingkungan yang tanpa cahaya sepanjang masa, sehingga mata menjadi vestigial (mereduksi), bahkan hilang sama sekali. Kegelapan juga menyebabkan pigmen tidak berkembang, sehingga kulit mereka berwarna pucat, putih, atau bahkan transparan. Troglobit merupakan hasil proses evolusi yang kemungkinan masih akan terus berkembang (bukan evolusi yang bersifat dead-end). Spesiasi mengarahkan munculnya satu jenis troglobit baru, dan beberapa teori tentang kemunculan jenis troglobit telah diusulkan para ahli, antara lain Howarth (1981), dan Peck dan Finston (1993). Perkembangan pengetahuan biologi gua di kawasan tropis memiliki andil besar dalam merombak pemahaman klasik mengenai spesiasi troglobit. Meskipun demikian belum ada teori yang dapat menjelaskan dengan gamblang proses spesiasi tersebut disertai bukti-bukti nyata. Penggunaan filogenetik mungkin memberi angin segar untuk peluang penyusunan hipotesis yang dapat diuji kebenarannya secara ilmiah, dan bukan sekedar asumsi subjektif semata.

Troglobit menjadi bernilai bagi pengetahuan karena mampu menjelaskan proses evolusi, bagaimana organisme harus mengembangkan kemampuan adaptasi untuk bertahan dalam lingkungan yang penuh tekanan. Terlepas dari polemik mengenai teori kolonisasi organisme gua, tekanan lingkungan ditanggapi adaptasi baik secara morfologis, fisiologis, maupun tingkah laku. Dengan kata lain, tekanan lingkungan merupakan kekuatan evolusioner dalam memunculkan jenis-jenis troglomorf. Jika jenis yang bersangkutan tidak lagi ditemukan di lingkungan luar gua, maka proses pemunculan troglobit telah berjalan sempurna. Tekanan lingkungan di dalam gua yang dimaksud antara lain kondisi gelap total, kelembaban yang sangat tinggi, minimnya environmental cues (seperti perubahan siang malam dan perubahan musim yang dijumpai di luar gua), gas-gas letal, minimnya nutrisi, atau bahkan kondisi becek dan licin yang menyulitkan mobilitas (Howarth 1993). Troglobit berevolusi secara progresif dalam mengembangkan organ-organ sensoris seperti antena pada jangkerik, trichobotria pada laba-laba, gurat sisi pada ikan. Di lain sisi, kondisi lingkungan yang demikian juga menghasilkan proses evolusi regresif yang ditandai dengan mereduksinya organ-organ yang tidak penting seperti mata dan sayap.

Speocera caeca (Ochiroceratidae) nampaknya pantas mewakili bangsa laba-laba dalam golongan troglobit, khususnya Indonesia sebagai kawasan tropis. Terbaru, beberapa spesimen laba-laba buta (dengan reduksi mata ekstrim) dikoleksi dari Menoreh, salah satu kawasan karst sempit dengan luas area tak lebih dari 20 km2. Memang salah satu pemahaman yang harus dimengerti oleh para peneliti kehidupan gua adalah jangan pernah manganggap tidak penting data dari satu kawasan sempit, atau bahkan data dari hanya satu sistem gua. Faktanya komposisi kekayaan troglofauna antar kawasan, atau bahkan antar gua dalam satu kawasanpun; umumnya berbeda. Ceklist fauna gua yang diperoleh dari satu gua umumnya jauh lebih rendah dari ceklist total fauna gua dalam satu kawasan di mana gua tersebut berada (Culver dan Sket 2000).

Kondisi antar gua sekilas nampak seragam, tetapi sebenarnya ada variasi lingkungan yang signifikan, taruhlah antar dua gua yang berbeda. Hal ini bisa saja terjadi karena pemahaman kita tentang satu sistem gua masihlah sangat terbatas. Kita sering menganggap gua itu hanya sebatas kemampuan kita mamandang, sehingga menghasilkan satu profil lorong saja. Padahal sangat mungkin sebuah sistem gua sebenarnya membentuk jaring-jaring rumit yang sebagian besar diantara tidak memungkinkan untuk diakses oleh manusia. Selama ini manusia hanya mampu mengenali proper caves (lorong-lorong yang memungkinkan untuk diakses). Jika kita bayangkan bahwa gua adalah sistem sangat rumit dengan variasi lingkungan yang besar, maka bukan tidak mungkin bahwa gua (atau lebih tepatnya lingkungan subteranean) merupakan habitat di muka bumi yang paling asing bagi manusia.

Salah satu contoh sederhana untuk mengenal variasi lingkungan di gua misalnya keberadaan satu jendela gua akan sangat signifikan pengaruhnya terhadap karakteristik lingkungan dan fluktuasi harian maupun tahunan dalam gua itu. Gua yang memiliki banyak jendela memang masih mungkin menyediakan karakteristik seperti disebutkan di atas, tetapi umumnya memiliki kisaran fluktuasi variabel lingkungan yang relatif besar.

Kembali ke laba-laba buta dari Menoreh, penulis mencoba merumuskan beberapa hipotesis dari hasil observasi maupun dari penelaahan literatur biologi gua. Sejauh ini, populasi laba-laba yang diduga keluarga Ctenidae tersebut hanya ditemukan di 3 gua dan terbatas pada lorong-lorong tertentu. Terbatasnya habitat laba-laba ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Lingkungan yang stabil, artinya mereka mengkoloni lingkungan yang ‘tertutup’ dari pengaruh lingkungan luar. Tertutup berarti relatif tidak terpengaruh oleh fluktuasi harian ataupun musiman yang terjadi di lingkungan luar gua. Dugaan ini diperkuat dengan fakta di lapangan bahwa jenis unik ini hanya dijumpai di sistem ‘gua tertutup’.
2. Faktor lingkungan tertentu sebagai pembatas, kelembaban yang tinggi mungkin salah satunya. Sebagian besar troglobit terestrial memang membutuhkan kelembaban yang tinggi.
3. Ketersediaan mangsa mungkin saja turut membatasi penyebaran jenis. Penulis memiliki hipotesis bahwa mangsa utama jenis laba-laba troglobit ini adalah troglobit lainnya, meliputi nocticolid, isopod, dan miliped. Penelitian mengenai preferensi pakan jenis troglobit mungkin menjadi sebuah penelitian yang menarik sekaligus menantang…
4. Dan yang terakhir, keberadaan kompetitor nampaknya dapat menjadi salah satu faktor pembatas yang dapat dipertimbangakan. Jenis-jenis predator lain yang lazim ditemukan meliputi kalacemeti (Amblypygi), kalacuka (Uropygi), pemanen (Opiliones), laba-laba sparassid, dan terkadang chilopod khas, Scutigera.

Predator yang hebat tetapi sekaligus makhluk cantik yang rapuh, mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan laba-laba troglobit. Betapa tidak, mereka mampu bertahan hidup dalam kondisi penuh keterbatasan, katakanlah jumlah mangsa yang sedikit, belum lagi ditambah tekanan lingkungan yang begitu ekstrim. Kegelapan mengharuskan laba-laba gua mengembangkan sistem sensor selain sensor visual yang sangat peka. Sensor ini terdapat pada tungkai-tungkai mereka, disebut trichobotria; dan fungsinya untuk mendeteksi keberadaan mangsa sekaligus mendeteksi adanya ancaman. Trichobotria adalah rambut-rambut halus yang mampu mendeteksi sentuhan maupun partikel-partikel yang beterbangan. Dengan adanya sistem sensor yang handal didukung dengan adaptasi lainnya, termasuk adaptasi fisiologis dan perilaku; laba-laba troglobit dapat mempertahankan kelangsungan jenisnya. Tetapi kehebatan itu nampaknya sekaligus titik lemah mereka. Artinya, mereka teradaptasi untuk lingkungan gua yang sangat spesifik dengan poin pentingnya adalah kestabilan lingkungan. Seandainya ada perubahan yang relatif mendadak, misalnya dengan menurunnya kelembaban atau masuknya jenis alien; bisa dipastikan viabilitas laba-laba troglobit akan menurun dan mungkin menuju kepunahan.

Dalam kondisi normal (lingkungan luar), laba-laba menghasilkan benang yang dikeluarkan organ bernama spineret, antara lain berfungsi sebagai penyusun jaring penangkap mangsa, membuat shelter/tempat perlindungan, dan alat pengaman ‘safety rope’. Fungsi tersebut bergantung pada masing-masing jenis laba-laba, misalnya pada orb web digunakan untuk jaring mangsa sedangkan laba-laba pemburu hanya sebagai pengaman mobilitas. Masih sebatas hipotesis, hidup di lingkungan gua nampaknya tidak mengharuskan kemampuan laba-laba dalam menghasilkan benang. Laba-laba gua menerapkan strategi sit and wait (ambushing), menunggu mangsa dan menyergap mangsa yang lewat. Sebagian besar mobilitas mungkin lebih dialokasikan untuk aktivitas reproduksi. Sehingga kemungkinan ada reduksi baik pada produksi (misalnya dengan reduksi struktur spineret), maupun reduksi fungsi.

Banyak hal yang bisa dipelajari di dunia gelap, dan bukan tidak mungkin sebuah pemahaman baru tentang evolusi akan lahir dari sana…

Selasa, 27 Juli 2010

Tamu istimewa dari golongan 6 tungkai: Oecophylla smaradigna

Oecophylla smaradigna, salah satu jenis weaver ant di antara dua jenis di dunia, memiliki sebaran di Asia termasuk Indonesia. Jenis lainnya O. longinoda mendominasi daratan Afrika. O. smaradigna yang familiar disebut semut rangrang/ ngangkrang ini relatif mudah dijumpai pada tajuk-tajuk pohon, karena ciri khasnya adalah sarang berupa daun-daun yang dirangkai menggunakan semacam benang halus. Delapantungkai merasa perlu sedikit mengulas salah satu jenis semut fenomenal ini mengingat keterkaitannya dengan ant mimic spider, khususnya Myrmarachne.

(bersambung)....

Pedansa handal: Cosmophasis spp

Cosmophasis sp. (Dok. Sidiq Harjanto)

Cosmophasis adalah salah satu marga anggota Famili Salticid beranggotakan sekitar 42 jenis yang telah terdeskripsi (Platnick’s catalog 2010). Mereka relatif mudah ditemukan di tajuk-tajuk yang rendah, dan sering juga ditemukan di herba termasuk pisang. Laba-laba ini dapat dikenali dari corak warna-warni pada tubuhnya, terutama pada jantan. Seksual dimorfisme nampak jelas pada beberapa jenis anggota marga ini. Selain perbedaan warna, betina biasanya memiliki tubuh yang membulat dibandingkan dengan jantan yang umumnya lebih ramping.

Salah satu yang menarik dari Cosmophasis adalah kemampuan unik mereka dalam ‘beratraksi dansa’. Lim dan Li (2004) berhasil mendeskripsi tarian perkawinan pada laba-laba jantan dan tarian agonistik antar pejantan pada salah satu jenis Cosmophasis, yakni C. umbratica. Jenis ini memiliki sebaran dari India hingga Sumatera, meskipun tidak menutup kemungkinan juga ada di Jawa.

Laba-laba jantan memiliki cara unik dalam menarik pasangan mereka. Saksikan saja atraksi si jantan Cosmophasis berikut…



Foto: Cosmophasis sp.
Ref:
Lim, Matthew L.M.; and Li, Daiqin. 2004. Courtship and male-male behaviour of Cosmophasis umbratica Simon, an ornate jumping spider (Araneae: Salticidae) from Singapore. Raffles Bull of Zool, 52(2): 435-448.

Small salticid in the morning



A small salticid, presumably as Phintella vittata, running away above a leaf. This energetic spider can be distinguished by their iridescent globular body and their diurnal path way.

Kamis, 22 Juli 2010

Menguak kekayaan ‘ant-mimic spider’ di Indonesia: Genus Myrmarachne


Salticidae (laba-laba peloncat) merupakan kelompok laba-laba evolusioner, salah satu hasil evolusi yang maju adalah kemampuan mimikri (pengembangan morfologi tubuh menyerupai hewan lainnya). Beberapa salticid menyerupai pseudoscorpion, rayap, kumbang, dan semut. Genus Myrmarachne (Famili Salticidae) merupakan kelompok laba-laba peloncat yang mengembangkan morfologi tubuhnya menyerupai semut (semut sebagai model). Biasanya satu jenis Myrmarachne menyerupai satu jenis semut, meskipun jenis semut tertentu ditiru oleh beberapa jenis Myrmarachne, misalnya semut rangrang (Oecophylla smaradigna). Pengembangan morfologi tubuh menyerupai semut merupakan strategi mimikri batesian, maksudnya pemangsa yang tidak menyukai semut model juga akan menghindari laba-laba karena morfologi mereka susah dibedakan dari model. Ini seperti hidup bersama dengan musuh; laba-laba harus sedekat mungkin dengan koloni semut model, tetapi harus menjaga jarak agar tidak dimangsa oleh model.



Dalam Platnick’s World Spider Catalog, Genus Myrmarachne MacLeay 1839 beranggotakan setidaknya 211 jenis yang telah dideskripsi. Dalam katalog tersebut, Indonesia menyumbang kurang lebih 29 jenis terdeskripsi. Beberapa jenis di antaranya sejauh ini hanya ditemukan di Indonesia. Sebagian besar dideskripsi sebelum tahun 1900 (22 jenis), sedangkan 5 jenis dideskripsi antara tahun 1900 - 2000, dan hanya 2 jenis yang dideskripsi di atas tahun 2000. Berikut ini ke 29 jenis Myrmarachne yang ditemukan di Indonesia, beserta catatan mengenai jenis tersebut:
1. M. alticeps Thorell 1890, pertama dideskripsi dengan nama Salticus alticeps, M. alticeps oleh Roewer 1955
2. M. angusta Thorell 1877
3. M. borneensis Peckham & Peckham 1907
4. M. capito Thorell 1890
5. M. christae Prószyn'ski 2001
6. M. clavigera Thorell 1877
7. M. debilis Thorell 1890, pertama kali dideskripsi dengan nama Synemosyna debilis, M. debilis oleh Roewer 1955
8. M. decorata Reimoser 1927
9. M. exasperans Peckham & Peckham 1892
10. M. formica Doleschall 1859
11. M. formosa Thorell 1890
12. M. jacobsoni Reimoser 1925
13. M. kochi Reimoser 1925
14. M. leptognatha Thorell 1890
15. M. lugens Thorell 1881, dideskripsi dari spesimen juvenil dengan nama Synemosyna lugens, M. lugens oleh Roewer 1955
16. M. macrognatha Thorell 1894
17. M. mandibularis Thorell 1890
18. M. mariaelenae Edwards & Benjamin 2009, jenis terakhir yang dideskripsi dari Indonesia (Borneo)
19. M. maxillosa C.L. Koch 1846
20. M. melanocephala MacLeay 1839, Myrmarachne dipakai sebagai nama genus untuk pertama kali. Jenis ini tersebar luas dari Pakistan sampai Indonesia
21. M. moesta Thorell 1877
22. M. nigra Thorell 1877
23. M. nitidissima Thorell 1877
24. M. pectorosa Thorell 1890
25. M. pectorosa sternodes Thorell 1890
26. M. plataleoides O. P.-Chambridge 1869, tersebar luas dari India, Srilangka, China, sampai Asia Tenggara (termasuk Indonesia), mungkin menyerupai Oecophylla smaradigna.
27. M. radiata Thorell 1894, dideskripsi dari spesimen juvenil dengan nama Herilus radiatus
28. M. rufescens Thorell 1877
29. M. shelfordi Peckham & Pechkam 1907

Penemuan jenis baru, maupun catatan baru untuk genus ini masih sangat mungkin, mengingat survei mengenai laba-laba masih sangat terbatas.

Senin, 05 Juli 2010

Si kecil yang cantik

Thorelliola cf. ensifera (jantan). Dok. Sidiq Harjanto

Ordo: Araneae
Famili: Salticidae
Marga: Thorelliola
Spesies: T. ensifera (Thorell 1877)

Deskripsi/karakter pembeda:
Petunjuk ke famili: sepasang AME besar
Petunjuk ke spesies: clipeus (bagian wajah) dilengkapi sepasang spina kecil berdekatan. pola warna khas pada bagian cephalothorak dan abdomen.

Habitat: dedaunan, batang pepohonan, arboreal

Sebaran: Malaysia, Indonesia (Sumatera - Sulawesi)

Hyllus diardi

Jantan Hyllus diardi. Dok. Sidiq Harjanto

Ordo: Araneae
Famili: Salticidae
Marga: Hyllus
Spesies: Hyllus diardi

Rabu, 23 Juni 2010

Menoreh Cave Spider

Menoreh cave spider, preadult

Jumat, 04 Juni 2010

Laba-laba cantik yang hilang

P. octomaculatus (Foto: Sidiq Harjanto)
Memiliki ukuran tubuh yang besar dibandingkan dengan keluarga Thomisidae lainnya, Platythomisus octomaculatus pertama kali dideskripsi oleh C.L. Koch pada tahun 1845. Laba-laba ini pernah dideskripsi ulang dari gambar spesimen kering oleh Doleschall pada tahun 1859 dengan nama yang berbeda. Sebaran jenis ini ada di Jawa dan Sumatra, sementara publikasi terakhir terkait jenis ini terbit pada tahun 1895 (Deeleman-Reinhold, pers comm) .

Sejak saat itu, tidak ada catatan atau laporan tentang laba-laba misterius ini. Laba-laba ini seperti hilang ditelan bumi. Bahkan sampai saat ini jantan dari spesies yang sama belum pernah ditemukan. Rasa-rasanya aneh, jika laba-laba berukuran besar dengan warna yang mencolok seperti itu sangat sulit dijumpai di alam. Dan mungkin saja jawaban atas hilangnya jenis yang diklaim sebagai salah satu laba-laba tercantik di kawasan oriental ini adalah.

Setelah ratusan tahun bak tak terjamah, beberapa waktu yang lalu laba-laba misterius ini kembali muncul. Bersarang dengan membuat lipatan pada daun pohon coklat, (cacao) laba-laba ini nampak nyaman dalam shelter yang berbalut benang-benang berwarna keemasan. Lagi-lagi ini adalah laba-laba betina. Tubuhnya didominasi warna kuning cerah, dengan spot-spot berwarna hitam pada cephalotorax dan abdomen. Warna hitam juga ditemukan pada tibia hingga tarsus. Satu lagi yang ganjil pada laba-laba ini adalah tidak nampaknya mata, mungkin terlalu kecil atau tersamarkan oleh warna.

Informasi taksonomi
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Arachnida
Ordo: Araneae
Famili: Thomisidae
Genus: Platythomisus
Spesies: P. octomaculatus

Special thanks to:
-Christa L. Deeleman-Reinhold for valuable information
-Bayu dan Murdiono untuk penemuan laba-laba yang cantik ini.

Rabu, 19 Mei 2010

Schizomid

Kingdom: Animalia
Phyllum: Arthropoda
Class: Arachnida
Order: Schizomida

Common name: shorttailed whipscorpion

This small schizomid collected from under a woodpile in Menoreh
(Photograph by Anang HK)

Rabu, 12 Mei 2010

Ant mimic spider (lagi)

Myrmarachne cf. assimilis mimicking to Oecophylla smaradigna. (weaver ants)
Photograph by Anang H. Kurniawan
Thanks to X. Nelson for your suggestion