Sabtu, 10 April 2010

Jujur, saya pengidap arachnophobia!


Setelah tulisan-tulisan sebelumnya lebih banyak bercerita tentang laba-laba dan kerabatnya, sekarang saatnya bercerita tentang diri saya; meskipun tetap saja ada kaitannya dengan laba-laba.

Semuanya berawal saat saya duduk di kelas III SD (kalau tidak salah)

Masa kecil saya…? Saya besar di sebuah kampung kecil, di pelosok Provinsi DIY. Bersama keluarga, kami menghuni sebuah rumah kecil yang di depannya ada hamparan sawah yang tampak menguning seperti emas jika musim panen tiba. Sedangkan di belakang rumah ada perbukitan Menoreh, yang tampak hijau saat musim hujan; tapi berubah menjadi kering dan gersang saat kemarau datang. Maklumlah, sebagian besar ditanami jati dan mahoni. Tidak ada yang terlalu menonjol dari diri saya. Saya bukan anak yang jenius, yang selalu membuat teman-teman terkagum-kagum. Tapi bukan juga anak bebal..wong saya belum pernah tinggal kelas. Kalo nakal, sepertinya nggak juga…Cuma sekali saya berantem, itupun dikeroyok…hehe.

Pagi itu, seperti biasa saya berangkat ke sekolah dengan perasaan gembira, ya…yang namanya anak-anak, lebih banyak seneng daripada sedihnya… Jam pertama dimulai, ‘anak-anak, bukunya dikeluarkan ya…!’ begitu kata bu guru. Tanpa berlama-lama, saya buka tas saya. Tapi saya merasakan ada sesuatu yang aneh saat saya memasukkan tangan ke dalam tas itu. Tiba-tiba waktu seperti berhenti...tapi saya justru semakin merasakan bahwa ada yang bergerak-gerak merayapi tangan kecil saya. Sontak saya tarik tangan dari dalam tas…dan…jantung ini rasanya copot ketika saya lihat seekor laba-laba sebesar jari orang dewasa nampak panik…merayapi tangan saya. Aaaaa…saya menjerit (tapi nggak selebay yang Anda bayangkan lho…). Laba-laba kabur… dan hanya tersisa saya dengan tampang bloon, serta tatapan aneh bu guru dan teman-teman… Gerrr…saya malah jadi bahan tertawaan deh…

Usut punya usut ternyata malam hari sebelum kejadian memalukan itu, saya lupa menutup tas setelah mengerjakan PR, belajar (apa iya..?), dan mempersiapkan buku-buku untuk esoknya. Nah kemungkinan si laba-laba itu menyelinap di tas saya malam hari saat saya tertidur pulas.

Dari peristiwa itulah saya mendapatkan trauma mendalam tentang laba-laba, sama seperti trauma saya dengan makhluk bernama kodok! Dua hewan itu selalu jadi momok dalam keseharian saya semasa kecil, bahkan sampai sekarang.. Dulu saya takut semua jenis laba-laba, dari yang berukuran kecil, apalagi yang berukuran lebih besar dari jari. Bahkan, percaya nggak percaya, melihat jaring-jaringnya saja bisa merinding.

Terapi itu saya sebut ‘witing tresno kudu dipekso

Penderitaan saya masih belum berakhir, bahkan saat saya sudah kuliah dan masuk organisasi mapala. Pengalaman caving (penelusuran gua) pertama kali, sudah disambut oleh Amblypygi (kalacemeti), membuat saya bergidik nggak karuan... Dan caving-caving berikutnya pun seperti itu, ketakutan dan kecemasan utama saya bukan pada gelapnya gua atau harus menuruni luweng menggunakan Single Rope Tecnique; tapi bagaimana ya kalau tiba-tiba ada Amblypygi menggerayangi saya…atau tanpa sengaja menyentuh ‘bokong’ besarnya itu….

Saya mulai sadar bahwa trauma masa kecil itu masih membekas, dan saya menyadari bahwa saya adalah pengidap arachnophobia. Sebuah ketakutan berlebihan pada laba-laba dan kerabatnya (arachnid). Lama-lama saya bosan dengan kecemasan-kecemasan itu, ‘ini harus segera diakhiri!’ pikir saya. Terapi itu saya awali dari Amblypygi; yang ini jenis Charon grayi, nggak main-main (untuk seorang pengidap arachnophobia), maklum karena ukurannya besar dan memang terkesan mengerikan. Saya coba kumpulkan semua keberanian, konsentrasi…; saya tatap lama-lama Amblypygi itu dalam jarak semakin dekat, saya sentuh ‘bokongnya’…dan…serrr…gerakan tiba-tiba hewan itu masih saja membuat jantung saya serasa mau copot. Nah ini adalah poin yang pertama kali saya ambil. Kaget oleh gerakan tiba-tiba! Mostly, arachnid memang sering membuat gerakan tiba-tiba jika merasa terancam, entah berlari atau menunjukkan posisi siaga. Dari pembelajaran ini saya berkesimpulan bahwa jika hewan itu saya tangkap, berarti dia tidak akan mengagetkan lagi. Cukup lama saya mengumpulkan keberanian untuk melakukannya…hanya keinginan kuat untuk sembuh dari trauma berkepanjangan dan keyakinan bahwa hewan itu tidak berbahaya, menjadi modal saya. Akhirnya…dengan kecepatan tinggi saya terkam hewan berkaki 8 itu, saya rasakan gerakan tungkai-tungkainya di telapak tangan. Ya…saya sudah memegangnya!! Wow…rasanya seperti memenangkan pertarungan gladiator…!

Mulai saat itulah sedikit demi sedikit saya mengatasi ketakutan terhadap laba-laba dan kerabatnya. Sudah lumayan, meskipun rasa cemas dan takut masih sering menghinggapi terutama untuk jenis-jenis bertubuh bongsor macam tarantula. Dan justru sekarang yang saya rasakan adalah semakin mencintai mereka…

This confession dedicated to Charon grayi, an enigmatic whip spider.

Reproduksi pada bangsa laba-laba dan kerabatnya

Semua makhluk hidup memiliki mekanisme untuk mempertahankan eksistensi spesiesnya. Melalui mekanisme yang disebut reproduksi, spesies-spesies bertahan dari kepunahan. Keturunan hanya akan terjadi jika individu-individu yang melangsungkan perkawinan merupakan spesies yang sama.

Tidak perlu berpanjang lebar membahas reproduksi makhluk hidup secara umum, langsung pada pembahasan mengenai perkembangbiakan pada laba-laba dan kerabatnya. Secara umum dapat dikatakan Arachnida bereproduksi secara seksual dengan fertilisasi bersifat internal, sama seperti pada manusia. Hanya saja perlu diketahui bahwa proses yang berlangsung tidak sama dengan reproduksi pada manusia dan hewan tingkat tinggi lainnya. Pada laba-laba dan arachnid lainnya, sperma individu jantan dimasukkan ke dalam tubuh individu betina dengan tidak menggunakan organ genital jantan. Dengan kata lain, ada fase yang disebut fase intermediet sebelum terjadinya fertilisasi. Adanya fase intermediet juga terjadi pada beberapa serangga tak bersayap, dan myriapod.

Amblypygi (whip spider) memiliki 5 tahapan dalam proses perkawinan (Weygoldt 2000). Dimulai dari tahap percumbuan, ditandai dengan ritual tertentu sebagai bentuk persiapan. Pada beberapa jenis jantan dan betina melakukan ‘tarian’ unik. Tahap selanjutnya adalah pembentukan spermatophore sebagai alat transfer spermatozoa kepada betina. Individu jantan kemudian melakukan atraksi untuk menarik/memikat sang betina agar mengambil sperma dari spermatopore. Tahapan tersebut kemudian diikuti dengan proses transfer spermatozoa dari spermatophore ke tubuh individu betina. Keempat tahapan diakhiri dengan ritual pascakawin. Setiap tahapan di atas bervariasi pada tiap jenis.

Laba-laba (khususnya Araneomorphae, Entelegyne) memiliki mekanisme yang berbeda, sperma disimpan dalam pilinan benang dan selanjutnya ditransfer ke organ khusus pada ujung pedipalpi sang jantan. Proses percumbuan seringkali beresiko bagi jantan, mengingat sifat dominan individu betina. Jantan harus mampu mengenali bahwa individu betina berasal dari jenis yang sama dan siap untuk kawin. Tarian khusus dilakukan untuk menghindari pemangsaan oleh betina. Ritual percumbuan sangat menentukan keberhasilan perkawinan, mengingat kesalahan sedikit dalam ritme vibrasi atau sentuhan bisa berakibat fatal bagi sang jantan.

Jika proses percumbuan berhasil, maka individu jantan dapat mentransfer spermanya ke tubuh sang betina melalui organ yang disebut epygnum yang berada pada ventral abdomen. Laba-laba menggunakan R-strategy dalam bereproduksi, artinya menghasilkan banyak anak. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi, betina dapat menghasilkan ribuan telur. Adelocosa anops (Lycosidae) dari beberapa gua di Hawaii hanya menghasilkan 15-30 butir telur (Kendall & Reyer 2006), meskipun pada lycosid epygean setidaknya menghasilkan 100 butir telur. Mengingat tingkat reproduksi yang rendah dan tekanan kerusakan habitat, jenis troglobit tersebut telah masuk list endangered.

Telur laba-laba disimpan dalam kantong, yang memiliki fungsi utama untuk melindungi telur dan menjaga kelembaban agar tetap stabil. Induk betina memiliki mekanisme berbeda-beda dalam menjaga telur, antara lain dengan menyimpan dalam sarang, membawanya dengan chelicera, atau menempelkan pada ventral menggunakan benang. Betina pada beberapa jenis mati setelah bertelur.

Beberapa jenis laba-laba dan arachnid lainnya memiliki perhatian khusus pada anak-anak mereka. Bentuk perhatian tersebut misalnya dengan menggendong di bagian dorsal abdomen, atau dengan cara memberikan makanan selama bayi-bayi masih lemah.


Foto: kantung telur

Mereka memang unik!

Rata Penuh
Ini adalah beberapa fakta mengenai laba-laba, yang menurut saya unik:

1. Sampai saat ini, tak kurang dari 38.000 jenis telah diketahui. Araneae merupakan ordo terbesar ke-7 untuk semua organisme.

2. Semua laba-laba menghasilkan benang dari organ yang disebut spinerret, tetapi tidak semuanya membangun jaring. Selain kelompok pembuat jaring, ada kelompok lain yang menggunakan benang sebagai ‘safety rope’.

3. Sebagian besar laba-laba menunjukkan dimorfisme seksual yang kuat, betina lebih dominan. Pada beberapa jenis, laba-laba jantan harus melakukan ‘ritual percumbuan’ khusus untuk sekedar mendekati betinanya agar tidak dimakan.

4. Beberapa laba-laba lainnya bereproduksi secara parthenogenesis.

5. Jika bagian prosoma (cephalotorak) seekor laba-laba ditusuk, maka laba-laba itu tidak bisa menggerakkan tungkai-tungkainya. Hal ini karena laba-laba menggunakan sistem hidrolik untuk menggerakkan alat-alat gerak mereka.

6. Laba-laba peloncat memiliki penglihatan tajam, bahkan dapat mencapai 10 kali lebih tajam daripada capung, serangga dengan penglihatan terbaik. Meskipun demikian, manusia memiliki penglihatan 5 kali lebih tajam daripada laba-laba peloncat.

7. Venom (agar tidak rancu dengan poison) laba-laba dihasilkan oleh organ khusus di dekat basal chelicera dan disuntikkan menggunakan dua buah taring di bagian depan prosoma. Racun tersebut bersifat neurotoksin.

8. Semuanya jenis yang diketahui adalah predator, kecuali Bagheera kiplingi (Salticidae) sebagai jenis pertama yang diketahui sebagai herbivor.

(dari berbagai sumber)
Foto: spinerret

Selasa, 06 April 2010

Perilaku makan laba-laba

Keluarga laba-laba memiliki variasi dalam perilaku makan, khususnya dalam mendapatkan mangsa. Kelompok penenun (weaver) mungkin yang paling familiar. Mereka membangun jaring penjerat dengan bentuk tertentu, menunggu, dan menyergap mangsa yang terjerat. Mekanisme yang berlaku pada kelompok ini nampaknya dapat dibagi menjadi 4 tahapan yaitu: mendapatkan posisi menurut faktor-faktor lingkungan, membangun jaring penjerat, melumpuhkan mangsa yang terjerat, dan proses mencerna (Leborgne et. al 1991). Faktor-faktor yang diduga berkorelasi dengan penentuan posisi jerat antara lain faktor klimat, faktor fisik (benang), kemelimpahan mangsa, dan keberadaan kompetitor. Cob-web sering memodifikasi jaring jerat mereka dengan menambahkan shelter dari daun (foto ada di bagian lain dalam blog ini).

Kelompok lain memiliki mekanisme ‘duduk dan menunggu mangsa’. Mereka tidak membangun jerat, melainkan menunggu mangsa yang mendekat dan menyergap dengan kecepatan tinggi. Kamuflase merupakan salah satu kunci keberhasilan predator tipe ini. Thomisid (laba-laba kepiting) misalnya, seringkali memiliki warna-warna cerah menyerupai bunga; sedangkan laba-laba lainnya kadang nampak menyatu dengan batang pohon. pada sarang berbentuk lubang di tanah. Tarantula, laba-laba primitif Lyphistiidae, dan laba-laba trapdoor berdiam di lubang pada tanah dan menyerang mangsa yang mendekati sarang mereka (diadopsi dari wikipedia).

Selain mekanisme yang disebutkan di atas, kelompok lainnya menggunakan strategi berburu aktif. Laba-laba pemburu dilengkapi dengan kemampuan mata yang luar biasa dalam mengidentifikasi keadaan di sekeliling mereka. Salticidae (laba-laba peloncat) dan Lycosidae (laba-laba serigala) merupakan contoh yang mudah ditemukan di sekitar kita. Mereka umumnya aktif pada siang hari (diurnal). Salticid memburu mangsa dengan bantuan benang sebagai pengaman sehingga membentuk semacam trek, karena kelompok ini umumnya arboreal. Sedangkan laba-laba serigala biasanya berburu di tanah atau pada pangkal tanaman rendah. Beberapa laba-laba bahkan nampak memiliki kecerdasan yang luar biasa. Mereka dapat menyusup ke dalam koloni musuh karena mengembangkan adaptasi morfologi hingga menyerupai musuh.

Bagheera kiplingi (Salticidae) mungkin memiliki perilaku yang paling aneh dalam dunia laba-laba. Jenis yang ditemukan di Amerika tengah ini merupakan laba-laba yang pertama kali diketahui sebagai vegetarian, karena nutrisi utama mereka di ambil dari dedaunan dan nektar.

Foto: 'sit-waiting and then rapidly atacking' strategy in Sparassid

Senin, 05 April 2010

Arachnofauna di gua-gua kawasan Menoreh

Laba-laba dan kerabatnya mampu bertahan dalam berbagai habitat. Bahkan di lingkungan yang ekstim seperti gua. Karakteristik lingkungan gua antara lain: tidak adanya cahaya, kelembaban yang sangat tinggi, gas karbondioksida yang berlimbah, dan radiasi gas rhadon (Howarth 1993). Dengan kondisi demikian, maka hewan-hewan gua (dan habitat subterran lainnya) memiliki mekanisme adaptasi morfologi, fisiologi, dan tingkah laku. Belum lagi dengan adanya keterbatasan nutrisi, hewan gua harus mengefektifkan metabolisme tubuh. Pada organisme dengan level adaptasi tinggi (cave obligat organism), sebagian besar energi dialokasikan untuk berkembangbiak sebagai bentuk menjaga eksistensi spesies.

Kiranya masih terlalu dini untuk banyak berbicara tentang biospeleologi di Indonesia, karena saat ini tantangan terbesar justru masih pada eksplorasi fauna gua dan memecahkan berbagai kendala taksonomis yang ada. Karena faktanya banyak jenis-jenis hewan gua belum teridentifikasi atau bahkan belum dideskripsi. Pengumpulan data mengenai Arachnida sebagai salah satu penyusun keanekaragaman fauna gua, masih menjadi tantangan besar untuk saat ini. Arachnid gua merupakan komponen penting dalam ekosistem gua mengingat perannya sebagai predator.

Kawasan karst sempit di Menoreh (Kawasan karst Jonggrangan) ternyata memiliki keanekaragaman jenis-jenis Arachnida yang tinggi. Berikut ini adalah sedikit informasi atau catatan awal mengenai jenis-jenis arachnid yang sering dijumpai di beberapa gua di Menoreh:
1. Amblypygi (Stygophrynus dammermani). Kalacemeti yang satu ini termasuk dalam Famili Charontidae. Ukuran tubuhnya relatif lebih kecil daripada kerabat dekatnya, Charon grayi, jenis dari kawasan Gunung Sewu. Ciri utama untuk membedakan dengan Charon adalah spina dorsal pada tibia pedipalpi berjumlah 3 (pada Charon berjumlah 2). Kalacemeti sangat umum dan sering dijumpai pada dinding gua, atau di tanah dekat dengan guano. Mangsa utamanya mungkin jangkrik gua dan serangga kecil lainnya.
2. Uropygi (Theliphonidae?). Nama daerahnya adalah kalacuka, mungkin karena hewan ini mengeluarkan zat yang berbau mirip cuka jika merasa terganggu. Meskipun relatif jarang ditemukan, hewan ini kadang dapat dijumpai di sekitar mulut gua sampai zona peralihan. Meskipun pernah ditemukan juga sampai zona dalam.
3. Opiliones. Hewan ini cukup mudah ditemukan, namun karena ukuran tubuhnya relatif kecil (tubuh berukuran kurang dari 1 cm), maka kebanyakan orang kurang memperhatikannya. Biasanya mereka merayap pada dinding gua dan bersembunyi di lubang jika diganggu
4. Laba-laba Sparassidae (Marga Heteropoda). Ini adalah jenis dengan ukuran yang besar yang umum dijumpai di gua-gua kawasan Menoreh. Terkadang tubuh dan bentangan tungkai-tungkainya hampir seukuran telapak tangan orang dewasa. Mereka menghabiskan waktu dengan berdiam, menunggu mangsa yang bergerak mendekat, jangkrik gua adalah menu utama. Laba-laba betina membawa kantong telur yang berukuran lebih besar daripada tubuhnya di bagian ventral tubuhnya.
5. Laba-laba lainnya, nampak seperti pholcid, membangun sarang mereka yang tidak beraturan pada celah-celah batuan atau sudut-sudut dinding gua. Satu individu jenis ini sering bersarang bertetangga dengan individu lainnya, menyerupai sebuah perkampungan kecil laba-laba.
6. Dan ‘the most interesting’, adalah satu jenis lagi laba-laba yang kemungkinan buta. Ini berdasarkan ditemukannya reduksi ekstrim pada ke delapan mata mereka hingga menyisakan spot-spot kecil berwarna putih. Sejak ditemukan akhir tahun 2008, populasi jenis ini hanya ditemukan di 3 gua, dan survei ke gua-gua lainnya masih terus dilakukan. Mereka mungkin memiliki habitat yang spesifik; dan dari beberapa catatan penemuan, laba-laba ini terbatas di lorong-lorong terdalam, dekat dengan genangan air atau aliran sungai kecil. Beberapa individu berbagi habitat dengan jenis-jenis troglomorphic seperti Isopoda, millipedes, dan Nocticolidae. Sambil menunggu proses deskripsi, mungkin tidak berlebihan jika kita sebut jenis ini sebagai kandidat baru untuk dimasukkan dalam list troglobit di Indonesia khususnya Jawa.

Tulisan di atas sebatas informasi yang masih sangat dangkal mengenai Arachnida gua, sedangkal pengetahuan penulis. Dan tentunya kita semua berharap bahwa arachnologi di Indonesia semakin membumi hingga menyentuh masyarakat luas. Dan semoga tulisan ini dapat diterima sebagai kontribusi kecil dalam memasyarakatkan laba-laba beserta kerabatnya.

*Foto narsis edition: Temonggo bersama adik2 Matalabiogama F. Biologi UGM (Agus ‘Kremi’, Azis ‘Temon’, Hanifah ‘Cempreng’, dan Umi ‘Syumbai’) saat mengunjungi salah satu gua di Menoreh. Thanks for togetherness.

Senin, 29 Maret 2010

Lycosidae: dari sahabat petani hingga penghuni kegelapan abadi

Famili Lycosidae, atau sering dikenal sebagai wolf spider, merupakan laba-laba yang umum dijumpai di areal persawahan atau padang rumput. Mereka dikaruniai penglihatan yang sangat baik, sehingga beberapa di antara lycosid memiliki gaya hidup pengembara, seperti Ctenidae (wandering spider) dan beberapa laba-laba peloncat (Salticidae). Tidak seperti kelompok orb weaver, cob-web weaver, dan funnel weaver yang menggunakan jaring untuk menjerat mangsa; kelompok pemburu dan pengembara aktif memburu dan mengejar mangsa. Biasanya mangsa mereka adalah serangga seperti belalang, jangkerik, maupun wereng.

Sebagai pemburu aktif yang umum hidup dipersawahan, jenis-jenis wolf spider nampaknya memiliki peranan yang baik dalam menjaga keseimbangan ekosistem persawahan. Terutama kaitannya dalam mengontrol populasi serangga yang berpotensi hama seperti wereng. Untuk alasan itu, kiranya tidak muluk-muluk saya mencantumkan frasa 'sahabat petani' pada judul artikel ini.

Adelecosa anops, jenis yang hanya ditemukan di beberapa gua lava di Pulau Kauai, Kep Hawai; dinyatakan sebagai obligat gua. Ciri-ciri fisik seperti mata yang mereduksi total, dan pigmentasi yang juga mereduksi menjadikan jenis ini sangat unik. Keunikan, sebaran yang terbatas, dan ancaman terhadap eksistensi jenis ini telah menggugah banyak pihak dalam upaya penyelamatan. US Fish and Wildlife Service memasukkan jenis itu dalam kategori Endangered.

Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Ordo : Araneae
Subordo : Opistothelae
Infraordo : Araneomorphae
Superfamili : Lycosoidea
Famili : Lycosidae

*Foto: Lycosidae

Jumat, 26 Maret 2010

Spider Watching, mungkinkah?

Kalau istilah bird watching (pengamatan burung) dan butterfly watching (pengamatan kupu-kupu) mungkin sudah tidak asing di telinga kita. Toh dewasa ini beberapa kawasan taman nasional di Indonesia, dan bahkan beberapa agen wisata sudah mengembangkan kedua kegiatan itu sebagai bagian dari wisata berwawasan alam, atau populer dengan istilah ekowisata. Dari tahun ke tahun peminat pengamatan hewan liar, terutama burung dan kupu-kupu, nampaknya semakin mengalami peningkatan. Ini didukung dengan maraknya kampanye antieksploitasi hewan liar, yang kemudian dikonversi ke tren baru, menikmati keindahan satwa di habitat aslinya.

Spider watching? Pengamatan laba-laba? Mungkin sangat asing di telinga orang Indonesia. Tapi percaya tidak percaya, aktivitas ini telah berkembang cukup pesat di negara-negara maju terutama di Amerika dan Eropa. Para penggemar laba-laba saat ini tidak hanya menjadikan laba-laba sebagai hewan kesayangan. Tetapi lebih dari itu mereka pergi ke berbagai tempat, mencari laba-laba di habitat asli, mengamati, mengidentifikasi, dan mendokumentasikannya. Setidaknya identifikasi dapat dilakukan sampai famili, dan lebih baik lagi sampai taksa yang lebih rendah. Mengingat kawasan subtropis memiliki keragaman jenis yang relatif rendah, didukung dengan majunya araneology (ilmu yang mempelajari laba-laba) di negara-negara barat, maka telah banyak tersedia buku panduan pengamatan (field guide), dengan gambar dan dilengkapi deskripsi jenis.

Mungkin nampak seperti pekerjaan yang aneh dan sia-sia. Tetapi jikalau dilihat lebih cermat lagi, aktivitas seperti itu banyak juga manfaatnya. Apalagi kalau berbicara tentang Indonesia yang notabene negara megabiodiversity (meskipun sayangnya belum sepenuhnya sadar akan kekayaan itu), pastilah sangat banyak jenis laba-laba yang dapat ditemukan. Dan mungkin juga jenis baru! Setidaknya kita akan lebih mengenal kekayaan alam negeri kita ini, dan lebih menghargai makhluk hidup ciptaanNya. Jadi apa salahnya kalau sekali-sekali cobalah mengamati dunia kecil milik laba-laba.

Mengamati laba-laba itu mudah, murah, dan mengasyikkan!

Mudah, karena sangat mudah menemukan laba-laba. Di pepohonan, di rimbunan rumput, di sekitar kolam, di balik batuan, di langit-langit rumah, bahkan di kolong tempat tidur Anda, sangat mungkin kita dapat menemukan makhluk berkaki 8 itu.
Murah, karena Anda tidak perlu repot-repot membawa berbagai peralatan mahal untuk dapat mengamati laba-laba. Buku panduan sederhana, lensa pembesar, dan kamera (jika ada) akan sangat membantu.
Mengasyikkan, ini mungkin baru dapat dirasakan jika sudah menemukan sensasi dari spider watching. Semakin sering mengamati laba-laba, akan semakin Anda tertantang menemukan jenis lain. Jika Anda mengidap arachnophobia (takut laba-laba dan kerabatnya), mungkin spider watching bisa menjadi terapi. Dimulai dari jenis-jenis yang kecil menggemaskan seperti lynx spider dan laba-laba peloncat (Salticidae) semakin meningkat ke jenis-jenis yang ‘menyeramkan’ macam tarantula dan sparassid.

Setahu saya, belum ada panduan lengkap tentang laba-laba di Indonesia. Jadi identifikasi sampai famili saja nampaknya sudah cukup susah. Dan memang tidak semua laba-laba dapat diidentifikasi hanya dengan mengamati secara langsung. Beberapa famili berikut mungkin relatif mudah dikenal:
Pholcidae (cellar spider) - memiliki tungkai-tungkai sangat panjang, membangun sarang di sekitar rumah, menggoyang sarang dengan keras jika merasa terganggu
Theridiidae (cob-web weavers) - laba-laba kecil keluarga black widow, sarang berbentuk tongkol, terkadang dilengkapi shelter yang terbuat dari potongan daun yang berbentuk kerucut
Araneidae, Tetragnathidae, dan Nephilidae (kelompok orb web) –, sarang berbentuk radial, sangat umum
Salticidae (jumping spider) – ukuran kecil sampai sedang, ciri khasnya memiliki 2 mata median anterior yang jauh lebih besar dari mata yang lain; dan seperti namanya, mereka meloncat dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka mudah ditemukan karena gaya hidup diurnal, memiliki mobilitas yang tinggi, memburu mangsa tanpa menggunakan jerat
Lycosidae (wolf spider) – biasa hidup di sawah, memburu serangga seperti wereng, ciri khas 2 mata median posterior ekstrim lebih besar.
Oxyopidae (lynx spider) - laba-laba kecil dengan susunan mata hexagonal, tungkai dengan spinae (semacam duri) panjang, gaya hidup pemburu mirip lycosid tetapi menyukai tajuk-tajuk rumput atau herba sebagai tempat menunggu mangsa.
Thomisidae (crab spider, flower spider) – relatif besar, memiliki tungkai-tungkai menyerupai kepiting, dengan abdomen besar, warna-warna cerah seperti kuning dan hijau, mata pada tuberkulus.
Sparassidae (huntsman) – sering ditemukan di dalam rumah, ukuran relatif besar
Theraphosidae (tarantula) – keluarga tarantula, hidup menggali lubang di tanah, di depan sarang diselubungi benang-benang halus.

Mereka yang mirip dengan laba-laba:
Opiliones (daddy long-legs, harvestmen) - mirip dengan cellar spider dilihat dari tungkai-tungkai yang ekstrim panjang. Hanya saja Opiliones merupakan ordo tersendiri, dengan ciri pembeda yang paling mudah yaitu tidak ada batas jelas antara cephalohorax dan abdomen (pada laba-laba ada tangkai pedisel)
Amblypygi (whip-spider), - dapat dibedakan dari abdomen yang berbuku-buku, pedipalp besar-raptorial, dan sepasang tungkai pertama mengalami modifikasi menjadi kaki antena

Poto: siapa tahu ada sparassid macam ini di bawah bantal Anda...