Jumat, 31 Desember 2010

Tahun Baru ala 8tungkai

Setahun lebih DELAPANTUNGKAI bertualang menembus belantara, menelusuri lorong-lorong gelap perut bumi, hingga merawat beberapa makhluk bertungkai delapan dengan segenap harapan untuk berkontribusi dalam menguak fakta seberapa kaya bangsa ini akan laba-laba dan kerabatnya. Suka, duka, gundah, dan sejuta perasaan lain pernah menghinggapi DELAPANTUNGKAI. Teringat saat suatu malam harus berjuang menembus gelap malam untuk berburu Stygophrynus dammermani versi epigean, saat berjuang mati-matian menulis surat elektronik berbahasa Inggris hingga akhirnya terjawab sudah laba-laba kuning itu sebagai Platythomisus octomaculatus, dan saat-saat merawat Hyllus diardi.

Semua yang telah dilalui belumlah sebanding dengan kekayaan arachnofauna Indonesia. Dan di akhir tahun 2010 ini, sebuah harapan baru muncul. Semoga di tahun yang akan datang, semangat mengeksplor masih tetap menyala. Dan semoga DELAPANTUNGKAI akan terus menjadi bagian dari perlaba-labaan di negeri ini. Dengan laba-laba mari kita tumbuhkan kecintaan terhadap negeri yang sangat kaya ini...!

SELAMAT TAHUN BARU 2011...
Jayalah Arachnologi Indonesia!!


Sabtu, 13 November 2010

Bidadari kegelapan, troglobit bertungkai delapan: si cantik yang rapuh


 A. matakecil, dewasa (Foto Sidiq Harjanto)

Lingkungan ekstrim sangat menarik untuk dipelajari dari sisi biologi, salah satunya gua. Dalam tulisan ini, gua oleh penulis diartikan sebagai suatu dimensi lingkungan, sehingga termasuk di dalamnya lubang-lubang subteranean dengan kondisi lingkungan yang mirip. Belajar tentang biologi gua, sering ditemui istilah troglobit. Istilah ini merupakan sebutan bagi organisme gua yang menjalani seluruh siklus hidupnya di dalam gua, dan tidak ditemukan di habitat lainnya. Sebagian besar dari kelompok ini memiliki morfologi yang telah mangalami adaptasi dalam lingkungan gua yang ekstrim (troglomorfik), misalnya pengembangan organ sensori kemo-taktil. Mata tidak diperlukan dalam kondisi lingkungan yang tanpa cahaya sepanjang masa, sehingga mata menjadi vestigial (mereduksi), bahkan hilang sama sekali. Kegelapan juga menyebabkan pigmen tidak berkembang, sehingga kulit mereka berwarna pucat, putih, atau bahkan transparan. Troglobit merupakan hasil proses evolusi yang kemungkinan masih akan terus berkembang (bukan evolusi yang bersifat dead-end). Spesiasi mengarahkan munculnya satu jenis troglobit baru, dan beberapa teori tentang kemunculan jenis troglobit telah diusulkan para ahli, antara lain Howarth (1981), dan Peck dan Finston (1993). Perkembangan pengetahuan biologi gua di kawasan tropis memiliki andil besar dalam merombak pemahaman klasik mengenai spesiasi troglobit. Meskipun demikian belum ada teori yang dapat menjelaskan dengan gamblang proses spesiasi tersebut disertai bukti-bukti nyata. Penggunaan filogenetik mungkin memberi angin segar untuk peluang penyusunan hipotesis yang dapat diuji kebenarannya secara ilmiah, dan bukan sekedar asumsi subjektif semata.

Troglobit menjadi bernilai bagi pengetahuan karena mampu menjelaskan proses evolusi, bagaimana organisme harus mengembangkan kemampuan adaptasi untuk bertahan dalam lingkungan yang penuh tekanan. Terlepas dari polemik mengenai teori kolonisasi organisme gua, tekanan lingkungan ditanggapi adaptasi baik secara morfologis, fisiologis, maupun tingkah laku. Dengan kata lain, tekanan lingkungan merupakan kekuatan evolusioner dalam memunculkan jenis-jenis troglomorf. Jika jenis yang bersangkutan tidak lagi ditemukan di lingkungan luar gua, maka proses pemunculan troglobit telah berjalan sempurna. Tekanan lingkungan di dalam gua yang dimaksud antara lain kondisi gelap total, kelembaban yang sangat tinggi, minimnya environmental cues (seperti perubahan siang malam dan perubahan musim yang dijumpai di luar gua), gas-gas letal, minimnya nutrisi, atau bahkan kondisi becek dan licin yang menyulitkan mobilitas (Howarth 1993). Troglobit berevolusi secara progresif dalam mengembangkan organ-organ sensoris seperti antena pada jangkerik, trichobotria pada laba-laba, gurat sisi pada ikan. Di lain sisi, kondisi lingkungan yang demikian juga menghasilkan proses evolusi regresif yang ditandai dengan mereduksinya organ-organ yang tidak penting seperti mata dan sayap.

Speocera caeca (Ochiroceratidae) nampaknya pantas mewakili bangsa laba-laba dalam golongan troglobit, khususnya Indonesia sebagai kawasan tropis. Terbaru, beberapa spesimen laba-laba buta (dengan reduksi mata ekstrim) dikoleksi dari Menoreh, salah satu kawasan karst sempit dengan luas area tak lebih dari 20 km2. Memang salah satu pemahaman yang harus dimengerti oleh para peneliti kehidupan gua adalah jangan pernah manganggap tidak penting data dari satu kawasan sempit, atau bahkan data dari hanya satu sistem gua. Faktanya komposisi kekayaan troglofauna antar kawasan, atau bahkan antar gua dalam satu kawasanpun; umumnya berbeda. Ceklist fauna gua yang diperoleh dari satu gua umumnya jauh lebih rendah dari ceklist total fauna gua dalam satu kawasan di mana gua tersebut berada (Culver dan Sket 2000).

Kondisi antar gua sekilas nampak seragam, tetapi sebenarnya ada variasi lingkungan yang signifikan, taruhlah antar dua gua yang berbeda. Hal ini bisa saja terjadi karena pemahaman kita tentang satu sistem gua masihlah sangat terbatas. Kita sering menganggap gua itu hanya sebatas kemampuan kita mamandang, sehingga menghasilkan satu profil lorong saja. Padahal sangat mungkin sebuah sistem gua sebenarnya membentuk jaring-jaring rumit yang sebagian besar diantara tidak memungkinkan untuk diakses oleh manusia. Selama ini manusia hanya mampu mengenali proper caves (lorong-lorong yang memungkinkan untuk diakses). Jika kita bayangkan bahwa gua adalah sistem sangat rumit dengan variasi lingkungan yang besar, maka bukan tidak mungkin bahwa gua (atau lebih tepatnya lingkungan subteranean) merupakan habitat di muka bumi yang paling asing bagi manusia.

Salah satu contoh sederhana untuk mengenal variasi lingkungan di gua misalnya keberadaan satu jendela gua akan sangat signifikan pengaruhnya terhadap karakteristik lingkungan dan fluktuasi harian maupun tahunan dalam gua itu. Gua yang memiliki banyak jendela memang masih mungkin menyediakan karakteristik seperti disebutkan di atas, tetapi umumnya memiliki kisaran fluktuasi variabel lingkungan yang relatif besar.

Kembali ke laba-laba buta dari Menoreh, penulis mencoba merumuskan beberapa hipotesis dari hasil observasi maupun dari penelaahan literatur biologi gua. Sejauh ini, populasi laba-laba yang diduga keluarga Ctenidae tersebut hanya ditemukan di 3 gua dan terbatas pada lorong-lorong tertentu. Terbatasnya habitat laba-laba ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Lingkungan yang stabil, artinya mereka mengkoloni lingkungan yang ‘tertutup’ dari pengaruh lingkungan luar. Tertutup berarti relatif tidak terpengaruh oleh fluktuasi harian ataupun musiman yang terjadi di lingkungan luar gua. Dugaan ini diperkuat dengan fakta di lapangan bahwa jenis unik ini hanya dijumpai di sistem ‘gua tertutup’.
2. Faktor lingkungan tertentu sebagai pembatas, kelembaban yang tinggi mungkin salah satunya. Sebagian besar troglobit terestrial memang membutuhkan kelembaban yang tinggi.
3. Ketersediaan mangsa mungkin saja turut membatasi penyebaran jenis. Penulis memiliki hipotesis bahwa mangsa utama jenis laba-laba troglobit ini adalah troglobit lainnya, meliputi nocticolid, isopod, dan miliped. Penelitian mengenai preferensi pakan jenis troglobit mungkin menjadi sebuah penelitian yang menarik sekaligus menantang…
4. Dan yang terakhir, keberadaan kompetitor nampaknya dapat menjadi salah satu faktor pembatas yang dapat dipertimbangakan. Jenis-jenis predator lain yang lazim ditemukan meliputi kalacemeti (Amblypygi), kalacuka (Uropygi), pemanen (Opiliones), laba-laba sparassid, dan terkadang chilopod khas, Scutigera.

Predator yang hebat tetapi sekaligus makhluk cantik yang rapuh, mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan laba-laba troglobit. Betapa tidak, mereka mampu bertahan hidup dalam kondisi penuh keterbatasan, katakanlah jumlah mangsa yang sedikit, belum lagi ditambah tekanan lingkungan yang begitu ekstrim. Kegelapan mengharuskan laba-laba gua mengembangkan sistem sensor selain sensor visual yang sangat peka. Sensor ini terdapat pada tungkai-tungkai mereka, disebut trichobotria; dan fungsinya untuk mendeteksi keberadaan mangsa sekaligus mendeteksi adanya ancaman. Trichobotria adalah rambut-rambut halus yang mampu mendeteksi sentuhan maupun partikel-partikel yang beterbangan. Dengan adanya sistem sensor yang handal didukung dengan adaptasi lainnya, termasuk adaptasi fisiologis dan perilaku; laba-laba troglobit dapat mempertahankan kelangsungan jenisnya. Tetapi kehebatan itu nampaknya sekaligus titik lemah mereka. Artinya, mereka teradaptasi untuk lingkungan gua yang sangat spesifik dengan poin pentingnya adalah kestabilan lingkungan. Seandainya ada perubahan yang relatif mendadak, misalnya dengan menurunnya kelembaban atau masuknya jenis alien; bisa dipastikan viabilitas laba-laba troglobit akan menurun dan mungkin menuju kepunahan.

Dalam kondisi normal (lingkungan luar), laba-laba menghasilkan benang yang dikeluarkan organ bernama spineret, antara lain berfungsi sebagai penyusun jaring penangkap mangsa, membuat shelter/tempat perlindungan, dan alat pengaman ‘safety rope’. Fungsi tersebut bergantung pada masing-masing jenis laba-laba, misalnya pada orb web digunakan untuk jaring mangsa sedangkan laba-laba pemburu hanya sebagai pengaman mobilitas. Masih sebatas hipotesis, hidup di lingkungan gua nampaknya tidak mengharuskan kemampuan laba-laba dalam menghasilkan benang. Laba-laba gua menerapkan strategi sit and wait (ambushing), menunggu mangsa dan menyergap mangsa yang lewat. Sebagian besar mobilitas mungkin lebih dialokasikan untuk aktivitas reproduksi. Sehingga kemungkinan ada reduksi baik pada produksi (misalnya dengan reduksi struktur spineret), maupun reduksi fungsi.

Banyak hal yang bisa dipelajari di dunia gelap, dan bukan tidak mungkin sebuah pemahaman baru tentang evolusi akan lahir dari sana…

Selasa, 27 Juli 2010

Tamu istimewa dari golongan 6 tungkai: Oecophylla smaradigna

Oecophylla smaradigna, salah satu jenis weaver ant di antara dua jenis di dunia, memiliki sebaran di Asia termasuk Indonesia. Jenis lainnya O. longinoda mendominasi daratan Afrika. O. smaradigna yang familiar disebut semut rangrang/ ngangkrang ini relatif mudah dijumpai pada tajuk-tajuk pohon, karena ciri khasnya adalah sarang berupa daun-daun yang dirangkai menggunakan semacam benang halus. Delapantungkai merasa perlu sedikit mengulas salah satu jenis semut fenomenal ini mengingat keterkaitannya dengan ant mimic spider, khususnya Myrmarachne.

(bersambung)....

Pedansa handal: Cosmophasis spp

Cosmophasis sp. (Dok. Sidiq Harjanto)

Cosmophasis adalah salah satu marga anggota Famili Salticid beranggotakan sekitar 42 jenis yang telah terdeskripsi (Platnick’s catalog 2010). Mereka relatif mudah ditemukan di tajuk-tajuk yang rendah, dan sering juga ditemukan di herba termasuk pisang. Laba-laba ini dapat dikenali dari corak warna-warni pada tubuhnya, terutama pada jantan. Seksual dimorfisme nampak jelas pada beberapa jenis anggota marga ini. Selain perbedaan warna, betina biasanya memiliki tubuh yang membulat dibandingkan dengan jantan yang umumnya lebih ramping.

Salah satu yang menarik dari Cosmophasis adalah kemampuan unik mereka dalam ‘beratraksi dansa’. Lim dan Li (2004) berhasil mendeskripsi tarian perkawinan pada laba-laba jantan dan tarian agonistik antar pejantan pada salah satu jenis Cosmophasis, yakni C. umbratica. Jenis ini memiliki sebaran dari India hingga Sumatera, meskipun tidak menutup kemungkinan juga ada di Jawa.

Laba-laba jantan memiliki cara unik dalam menarik pasangan mereka. Saksikan saja atraksi si jantan Cosmophasis berikut…



Foto: Cosmophasis sp.
Ref:
Lim, Matthew L.M.; and Li, Daiqin. 2004. Courtship and male-male behaviour of Cosmophasis umbratica Simon, an ornate jumping spider (Araneae: Salticidae) from Singapore. Raffles Bull of Zool, 52(2): 435-448.

Small salticid in the morning



A small salticid, presumably as Phintella vittata, running away above a leaf. This energetic spider can be distinguished by their iridescent globular body and their diurnal path way.

Kamis, 22 Juli 2010

Menguak kekayaan ‘ant-mimic spider’ di Indonesia: Genus Myrmarachne


Salticidae (laba-laba peloncat) merupakan kelompok laba-laba evolusioner, salah satu hasil evolusi yang maju adalah kemampuan mimikri (pengembangan morfologi tubuh menyerupai hewan lainnya). Beberapa salticid menyerupai pseudoscorpion, rayap, kumbang, dan semut. Genus Myrmarachne (Famili Salticidae) merupakan kelompok laba-laba peloncat yang mengembangkan morfologi tubuhnya menyerupai semut (semut sebagai model). Biasanya satu jenis Myrmarachne menyerupai satu jenis semut, meskipun jenis semut tertentu ditiru oleh beberapa jenis Myrmarachne, misalnya semut rangrang (Oecophylla smaradigna). Pengembangan morfologi tubuh menyerupai semut merupakan strategi mimikri batesian, maksudnya pemangsa yang tidak menyukai semut model juga akan menghindari laba-laba karena morfologi mereka susah dibedakan dari model. Ini seperti hidup bersama dengan musuh; laba-laba harus sedekat mungkin dengan koloni semut model, tetapi harus menjaga jarak agar tidak dimangsa oleh model.



Dalam Platnick’s World Spider Catalog, Genus Myrmarachne MacLeay 1839 beranggotakan setidaknya 211 jenis yang telah dideskripsi. Dalam katalog tersebut, Indonesia menyumbang kurang lebih 29 jenis terdeskripsi. Beberapa jenis di antaranya sejauh ini hanya ditemukan di Indonesia. Sebagian besar dideskripsi sebelum tahun 1900 (22 jenis), sedangkan 5 jenis dideskripsi antara tahun 1900 - 2000, dan hanya 2 jenis yang dideskripsi di atas tahun 2000. Berikut ini ke 29 jenis Myrmarachne yang ditemukan di Indonesia, beserta catatan mengenai jenis tersebut:
1. M. alticeps Thorell 1890, pertama dideskripsi dengan nama Salticus alticeps, M. alticeps oleh Roewer 1955
2. M. angusta Thorell 1877
3. M. borneensis Peckham & Peckham 1907
4. M. capito Thorell 1890
5. M. christae Prószyn'ski 2001
6. M. clavigera Thorell 1877
7. M. debilis Thorell 1890, pertama kali dideskripsi dengan nama Synemosyna debilis, M. debilis oleh Roewer 1955
8. M. decorata Reimoser 1927
9. M. exasperans Peckham & Peckham 1892
10. M. formica Doleschall 1859
11. M. formosa Thorell 1890
12. M. jacobsoni Reimoser 1925
13. M. kochi Reimoser 1925
14. M. leptognatha Thorell 1890
15. M. lugens Thorell 1881, dideskripsi dari spesimen juvenil dengan nama Synemosyna lugens, M. lugens oleh Roewer 1955
16. M. macrognatha Thorell 1894
17. M. mandibularis Thorell 1890
18. M. mariaelenae Edwards & Benjamin 2009, jenis terakhir yang dideskripsi dari Indonesia (Borneo)
19. M. maxillosa C.L. Koch 1846
20. M. melanocephala MacLeay 1839, Myrmarachne dipakai sebagai nama genus untuk pertama kali. Jenis ini tersebar luas dari Pakistan sampai Indonesia
21. M. moesta Thorell 1877
22. M. nigra Thorell 1877
23. M. nitidissima Thorell 1877
24. M. pectorosa Thorell 1890
25. M. pectorosa sternodes Thorell 1890
26. M. plataleoides O. P.-Chambridge 1869, tersebar luas dari India, Srilangka, China, sampai Asia Tenggara (termasuk Indonesia), mungkin menyerupai Oecophylla smaradigna.
27. M. radiata Thorell 1894, dideskripsi dari spesimen juvenil dengan nama Herilus radiatus
28. M. rufescens Thorell 1877
29. M. shelfordi Peckham & Pechkam 1907

Penemuan jenis baru, maupun catatan baru untuk genus ini masih sangat mungkin, mengingat survei mengenai laba-laba masih sangat terbatas.

Senin, 05 Juli 2010

Si kecil yang cantik

Thorelliola cf. ensifera (jantan). Dok. Sidiq Harjanto

Ordo: Araneae
Famili: Salticidae
Marga: Thorelliola
Spesies: T. ensifera (Thorell 1877)

Deskripsi/karakter pembeda:
Petunjuk ke famili: sepasang AME besar
Petunjuk ke spesies: clipeus (bagian wajah) dilengkapi sepasang spina kecil berdekatan. pola warna khas pada bagian cephalothorak dan abdomen.

Habitat: dedaunan, batang pepohonan, arboreal

Sebaran: Malaysia, Indonesia (Sumatera - Sulawesi)