Jumat, 31 Desember 2010

Tahun Baru ala 8tungkai

Setahun lebih DELAPANTUNGKAI bertualang menembus belantara, menelusuri lorong-lorong gelap perut bumi, hingga merawat beberapa makhluk bertungkai delapan dengan segenap harapan untuk berkontribusi dalam menguak fakta seberapa kaya bangsa ini akan laba-laba dan kerabatnya. Suka, duka, gundah, dan sejuta perasaan lain pernah menghinggapi DELAPANTUNGKAI. Teringat saat suatu malam harus berjuang menembus gelap malam untuk berburu Stygophrynus dammermani versi epigean, saat berjuang mati-matian menulis surat elektronik berbahasa Inggris hingga akhirnya terjawab sudah laba-laba kuning itu sebagai Platythomisus octomaculatus, dan saat-saat merawat Hyllus diardi.

Semua yang telah dilalui belumlah sebanding dengan kekayaan arachnofauna Indonesia. Dan di akhir tahun 2010 ini, sebuah harapan baru muncul. Semoga di tahun yang akan datang, semangat mengeksplor masih tetap menyala. Dan semoga DELAPANTUNGKAI akan terus menjadi bagian dari perlaba-labaan di negeri ini. Dengan laba-laba mari kita tumbuhkan kecintaan terhadap negeri yang sangat kaya ini...!

SELAMAT TAHUN BARU 2011...
Jayalah Arachnologi Indonesia!!


Sabtu, 13 November 2010

Bidadari kegelapan, troglobit bertungkai delapan: si cantik yang rapuh


 A. matakecil, dewasa (Foto Sidiq Harjanto)

Lingkungan ekstrim sangat menarik untuk dipelajari dari sisi biologi, salah satunya gua. Dalam tulisan ini, gua oleh penulis diartikan sebagai suatu dimensi lingkungan, sehingga termasuk di dalamnya lubang-lubang subteranean dengan kondisi lingkungan yang mirip. Belajar tentang biologi gua, sering ditemui istilah troglobit. Istilah ini merupakan sebutan bagi organisme gua yang menjalani seluruh siklus hidupnya di dalam gua, dan tidak ditemukan di habitat lainnya. Sebagian besar dari kelompok ini memiliki morfologi yang telah mangalami adaptasi dalam lingkungan gua yang ekstrim (troglomorfik), misalnya pengembangan organ sensori kemo-taktil. Mata tidak diperlukan dalam kondisi lingkungan yang tanpa cahaya sepanjang masa, sehingga mata menjadi vestigial (mereduksi), bahkan hilang sama sekali. Kegelapan juga menyebabkan pigmen tidak berkembang, sehingga kulit mereka berwarna pucat, putih, atau bahkan transparan. Troglobit merupakan hasil proses evolusi yang kemungkinan masih akan terus berkembang (bukan evolusi yang bersifat dead-end). Spesiasi mengarahkan munculnya satu jenis troglobit baru, dan beberapa teori tentang kemunculan jenis troglobit telah diusulkan para ahli, antara lain Howarth (1981), dan Peck dan Finston (1993). Perkembangan pengetahuan biologi gua di kawasan tropis memiliki andil besar dalam merombak pemahaman klasik mengenai spesiasi troglobit. Meskipun demikian belum ada teori yang dapat menjelaskan dengan gamblang proses spesiasi tersebut disertai bukti-bukti nyata. Penggunaan filogenetik mungkin memberi angin segar untuk peluang penyusunan hipotesis yang dapat diuji kebenarannya secara ilmiah, dan bukan sekedar asumsi subjektif semata.

Troglobit menjadi bernilai bagi pengetahuan karena mampu menjelaskan proses evolusi, bagaimana organisme harus mengembangkan kemampuan adaptasi untuk bertahan dalam lingkungan yang penuh tekanan. Terlepas dari polemik mengenai teori kolonisasi organisme gua, tekanan lingkungan ditanggapi adaptasi baik secara morfologis, fisiologis, maupun tingkah laku. Dengan kata lain, tekanan lingkungan merupakan kekuatan evolusioner dalam memunculkan jenis-jenis troglomorf. Jika jenis yang bersangkutan tidak lagi ditemukan di lingkungan luar gua, maka proses pemunculan troglobit telah berjalan sempurna. Tekanan lingkungan di dalam gua yang dimaksud antara lain kondisi gelap total, kelembaban yang sangat tinggi, minimnya environmental cues (seperti perubahan siang malam dan perubahan musim yang dijumpai di luar gua), gas-gas letal, minimnya nutrisi, atau bahkan kondisi becek dan licin yang menyulitkan mobilitas (Howarth 1993). Troglobit berevolusi secara progresif dalam mengembangkan organ-organ sensoris seperti antena pada jangkerik, trichobotria pada laba-laba, gurat sisi pada ikan. Di lain sisi, kondisi lingkungan yang demikian juga menghasilkan proses evolusi regresif yang ditandai dengan mereduksinya organ-organ yang tidak penting seperti mata dan sayap.

Speocera caeca (Ochiroceratidae) nampaknya pantas mewakili bangsa laba-laba dalam golongan troglobit, khususnya Indonesia sebagai kawasan tropis. Terbaru, beberapa spesimen laba-laba buta (dengan reduksi mata ekstrim) dikoleksi dari Menoreh, salah satu kawasan karst sempit dengan luas area tak lebih dari 20 km2. Memang salah satu pemahaman yang harus dimengerti oleh para peneliti kehidupan gua adalah jangan pernah manganggap tidak penting data dari satu kawasan sempit, atau bahkan data dari hanya satu sistem gua. Faktanya komposisi kekayaan troglofauna antar kawasan, atau bahkan antar gua dalam satu kawasanpun; umumnya berbeda. Ceklist fauna gua yang diperoleh dari satu gua umumnya jauh lebih rendah dari ceklist total fauna gua dalam satu kawasan di mana gua tersebut berada (Culver dan Sket 2000).

Kondisi antar gua sekilas nampak seragam, tetapi sebenarnya ada variasi lingkungan yang signifikan, taruhlah antar dua gua yang berbeda. Hal ini bisa saja terjadi karena pemahaman kita tentang satu sistem gua masihlah sangat terbatas. Kita sering menganggap gua itu hanya sebatas kemampuan kita mamandang, sehingga menghasilkan satu profil lorong saja. Padahal sangat mungkin sebuah sistem gua sebenarnya membentuk jaring-jaring rumit yang sebagian besar diantara tidak memungkinkan untuk diakses oleh manusia. Selama ini manusia hanya mampu mengenali proper caves (lorong-lorong yang memungkinkan untuk diakses). Jika kita bayangkan bahwa gua adalah sistem sangat rumit dengan variasi lingkungan yang besar, maka bukan tidak mungkin bahwa gua (atau lebih tepatnya lingkungan subteranean) merupakan habitat di muka bumi yang paling asing bagi manusia.

Salah satu contoh sederhana untuk mengenal variasi lingkungan di gua misalnya keberadaan satu jendela gua akan sangat signifikan pengaruhnya terhadap karakteristik lingkungan dan fluktuasi harian maupun tahunan dalam gua itu. Gua yang memiliki banyak jendela memang masih mungkin menyediakan karakteristik seperti disebutkan di atas, tetapi umumnya memiliki kisaran fluktuasi variabel lingkungan yang relatif besar.

Kembali ke laba-laba buta dari Menoreh, penulis mencoba merumuskan beberapa hipotesis dari hasil observasi maupun dari penelaahan literatur biologi gua. Sejauh ini, populasi laba-laba yang diduga keluarga Ctenidae tersebut hanya ditemukan di 3 gua dan terbatas pada lorong-lorong tertentu. Terbatasnya habitat laba-laba ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Lingkungan yang stabil, artinya mereka mengkoloni lingkungan yang ‘tertutup’ dari pengaruh lingkungan luar. Tertutup berarti relatif tidak terpengaruh oleh fluktuasi harian ataupun musiman yang terjadi di lingkungan luar gua. Dugaan ini diperkuat dengan fakta di lapangan bahwa jenis unik ini hanya dijumpai di sistem ‘gua tertutup’.
2. Faktor lingkungan tertentu sebagai pembatas, kelembaban yang tinggi mungkin salah satunya. Sebagian besar troglobit terestrial memang membutuhkan kelembaban yang tinggi.
3. Ketersediaan mangsa mungkin saja turut membatasi penyebaran jenis. Penulis memiliki hipotesis bahwa mangsa utama jenis laba-laba troglobit ini adalah troglobit lainnya, meliputi nocticolid, isopod, dan miliped. Penelitian mengenai preferensi pakan jenis troglobit mungkin menjadi sebuah penelitian yang menarik sekaligus menantang…
4. Dan yang terakhir, keberadaan kompetitor nampaknya dapat menjadi salah satu faktor pembatas yang dapat dipertimbangakan. Jenis-jenis predator lain yang lazim ditemukan meliputi kalacemeti (Amblypygi), kalacuka (Uropygi), pemanen (Opiliones), laba-laba sparassid, dan terkadang chilopod khas, Scutigera.

Predator yang hebat tetapi sekaligus makhluk cantik yang rapuh, mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan laba-laba troglobit. Betapa tidak, mereka mampu bertahan hidup dalam kondisi penuh keterbatasan, katakanlah jumlah mangsa yang sedikit, belum lagi ditambah tekanan lingkungan yang begitu ekstrim. Kegelapan mengharuskan laba-laba gua mengembangkan sistem sensor selain sensor visual yang sangat peka. Sensor ini terdapat pada tungkai-tungkai mereka, disebut trichobotria; dan fungsinya untuk mendeteksi keberadaan mangsa sekaligus mendeteksi adanya ancaman. Trichobotria adalah rambut-rambut halus yang mampu mendeteksi sentuhan maupun partikel-partikel yang beterbangan. Dengan adanya sistem sensor yang handal didukung dengan adaptasi lainnya, termasuk adaptasi fisiologis dan perilaku; laba-laba troglobit dapat mempertahankan kelangsungan jenisnya. Tetapi kehebatan itu nampaknya sekaligus titik lemah mereka. Artinya, mereka teradaptasi untuk lingkungan gua yang sangat spesifik dengan poin pentingnya adalah kestabilan lingkungan. Seandainya ada perubahan yang relatif mendadak, misalnya dengan menurunnya kelembaban atau masuknya jenis alien; bisa dipastikan viabilitas laba-laba troglobit akan menurun dan mungkin menuju kepunahan.

Dalam kondisi normal (lingkungan luar), laba-laba menghasilkan benang yang dikeluarkan organ bernama spineret, antara lain berfungsi sebagai penyusun jaring penangkap mangsa, membuat shelter/tempat perlindungan, dan alat pengaman ‘safety rope’. Fungsi tersebut bergantung pada masing-masing jenis laba-laba, misalnya pada orb web digunakan untuk jaring mangsa sedangkan laba-laba pemburu hanya sebagai pengaman mobilitas. Masih sebatas hipotesis, hidup di lingkungan gua nampaknya tidak mengharuskan kemampuan laba-laba dalam menghasilkan benang. Laba-laba gua menerapkan strategi sit and wait (ambushing), menunggu mangsa dan menyergap mangsa yang lewat. Sebagian besar mobilitas mungkin lebih dialokasikan untuk aktivitas reproduksi. Sehingga kemungkinan ada reduksi baik pada produksi (misalnya dengan reduksi struktur spineret), maupun reduksi fungsi.

Banyak hal yang bisa dipelajari di dunia gelap, dan bukan tidak mungkin sebuah pemahaman baru tentang evolusi akan lahir dari sana…

Selasa, 27 Juli 2010

Tamu istimewa dari golongan 6 tungkai: Oecophylla smaradigna

Oecophylla smaradigna, salah satu jenis weaver ant di antara dua jenis di dunia, memiliki sebaran di Asia termasuk Indonesia. Jenis lainnya O. longinoda mendominasi daratan Afrika. O. smaradigna yang familiar disebut semut rangrang/ ngangkrang ini relatif mudah dijumpai pada tajuk-tajuk pohon, karena ciri khasnya adalah sarang berupa daun-daun yang dirangkai menggunakan semacam benang halus. Delapantungkai merasa perlu sedikit mengulas salah satu jenis semut fenomenal ini mengingat keterkaitannya dengan ant mimic spider, khususnya Myrmarachne.

(bersambung)....

Pedansa handal: Cosmophasis spp

Cosmophasis sp. (Dok. Sidiq Harjanto)

Cosmophasis adalah salah satu marga anggota Famili Salticid beranggotakan sekitar 42 jenis yang telah terdeskripsi (Platnick’s catalog 2010). Mereka relatif mudah ditemukan di tajuk-tajuk yang rendah, dan sering juga ditemukan di herba termasuk pisang. Laba-laba ini dapat dikenali dari corak warna-warni pada tubuhnya, terutama pada jantan. Seksual dimorfisme nampak jelas pada beberapa jenis anggota marga ini. Selain perbedaan warna, betina biasanya memiliki tubuh yang membulat dibandingkan dengan jantan yang umumnya lebih ramping.

Salah satu yang menarik dari Cosmophasis adalah kemampuan unik mereka dalam ‘beratraksi dansa’. Lim dan Li (2004) berhasil mendeskripsi tarian perkawinan pada laba-laba jantan dan tarian agonistik antar pejantan pada salah satu jenis Cosmophasis, yakni C. umbratica. Jenis ini memiliki sebaran dari India hingga Sumatera, meskipun tidak menutup kemungkinan juga ada di Jawa.

Laba-laba jantan memiliki cara unik dalam menarik pasangan mereka. Saksikan saja atraksi si jantan Cosmophasis berikut…



Foto: Cosmophasis sp.
Ref:
Lim, Matthew L.M.; and Li, Daiqin. 2004. Courtship and male-male behaviour of Cosmophasis umbratica Simon, an ornate jumping spider (Araneae: Salticidae) from Singapore. Raffles Bull of Zool, 52(2): 435-448.

Small salticid in the morning



A small salticid, presumably as Phintella vittata, running away above a leaf. This energetic spider can be distinguished by their iridescent globular body and their diurnal path way.

Kamis, 22 Juli 2010

Menguak kekayaan ‘ant-mimic spider’ di Indonesia: Genus Myrmarachne


Salticidae (laba-laba peloncat) merupakan kelompok laba-laba evolusioner, salah satu hasil evolusi yang maju adalah kemampuan mimikri (pengembangan morfologi tubuh menyerupai hewan lainnya). Beberapa salticid menyerupai pseudoscorpion, rayap, kumbang, dan semut. Genus Myrmarachne (Famili Salticidae) merupakan kelompok laba-laba peloncat yang mengembangkan morfologi tubuhnya menyerupai semut (semut sebagai model). Biasanya satu jenis Myrmarachne menyerupai satu jenis semut, meskipun jenis semut tertentu ditiru oleh beberapa jenis Myrmarachne, misalnya semut rangrang (Oecophylla smaradigna). Pengembangan morfologi tubuh menyerupai semut merupakan strategi mimikri batesian, maksudnya pemangsa yang tidak menyukai semut model juga akan menghindari laba-laba karena morfologi mereka susah dibedakan dari model. Ini seperti hidup bersama dengan musuh; laba-laba harus sedekat mungkin dengan koloni semut model, tetapi harus menjaga jarak agar tidak dimangsa oleh model.



Dalam Platnick’s World Spider Catalog, Genus Myrmarachne MacLeay 1839 beranggotakan setidaknya 211 jenis yang telah dideskripsi. Dalam katalog tersebut, Indonesia menyumbang kurang lebih 29 jenis terdeskripsi. Beberapa jenis di antaranya sejauh ini hanya ditemukan di Indonesia. Sebagian besar dideskripsi sebelum tahun 1900 (22 jenis), sedangkan 5 jenis dideskripsi antara tahun 1900 - 2000, dan hanya 2 jenis yang dideskripsi di atas tahun 2000. Berikut ini ke 29 jenis Myrmarachne yang ditemukan di Indonesia, beserta catatan mengenai jenis tersebut:
1. M. alticeps Thorell 1890, pertama dideskripsi dengan nama Salticus alticeps, M. alticeps oleh Roewer 1955
2. M. angusta Thorell 1877
3. M. borneensis Peckham & Peckham 1907
4. M. capito Thorell 1890
5. M. christae PrĂ³szyn'ski 2001
6. M. clavigera Thorell 1877
7. M. debilis Thorell 1890, pertama kali dideskripsi dengan nama Synemosyna debilis, M. debilis oleh Roewer 1955
8. M. decorata Reimoser 1927
9. M. exasperans Peckham & Peckham 1892
10. M. formica Doleschall 1859
11. M. formosa Thorell 1890
12. M. jacobsoni Reimoser 1925
13. M. kochi Reimoser 1925
14. M. leptognatha Thorell 1890
15. M. lugens Thorell 1881, dideskripsi dari spesimen juvenil dengan nama Synemosyna lugens, M. lugens oleh Roewer 1955
16. M. macrognatha Thorell 1894
17. M. mandibularis Thorell 1890
18. M. mariaelenae Edwards & Benjamin 2009, jenis terakhir yang dideskripsi dari Indonesia (Borneo)
19. M. maxillosa C.L. Koch 1846
20. M. melanocephala MacLeay 1839, Myrmarachne dipakai sebagai nama genus untuk pertama kali. Jenis ini tersebar luas dari Pakistan sampai Indonesia
21. M. moesta Thorell 1877
22. M. nigra Thorell 1877
23. M. nitidissima Thorell 1877
24. M. pectorosa Thorell 1890
25. M. pectorosa sternodes Thorell 1890
26. M. plataleoides O. P.-Chambridge 1869, tersebar luas dari India, Srilangka, China, sampai Asia Tenggara (termasuk Indonesia), mungkin menyerupai Oecophylla smaradigna.
27. M. radiata Thorell 1894, dideskripsi dari spesimen juvenil dengan nama Herilus radiatus
28. M. rufescens Thorell 1877
29. M. shelfordi Peckham & Pechkam 1907

Penemuan jenis baru, maupun catatan baru untuk genus ini masih sangat mungkin, mengingat survei mengenai laba-laba masih sangat terbatas.

Senin, 05 Juli 2010

Si kecil yang cantik

Thorelliola cf. ensifera (jantan). Dok. Sidiq Harjanto

Ordo: Araneae
Famili: Salticidae
Marga: Thorelliola
Spesies: T. ensifera (Thorell 1877)

Deskripsi/karakter pembeda:
Petunjuk ke famili: sepasang AME besar
Petunjuk ke spesies: clipeus (bagian wajah) dilengkapi sepasang spina kecil berdekatan. pola warna khas pada bagian cephalothorak dan abdomen.

Habitat: dedaunan, batang pepohonan, arboreal

Sebaran: Malaysia, Indonesia (Sumatera - Sulawesi)

Hyllus diardi

Jantan Hyllus diardi. Dok. Sidiq Harjanto

Ordo: Araneae
Famili: Salticidae
Marga: Hyllus
Spesies: Hyllus diardi

Rabu, 23 Juni 2010

Menoreh Cave Spider

Menoreh cave spider, preadult

Jumat, 04 Juni 2010

Laba-laba cantik yang hilang

P. octomaculatus (Foto: Sidiq Harjanto)
Memiliki ukuran tubuh yang besar dibandingkan dengan keluarga Thomisidae lainnya, Platythomisus octomaculatus pertama kali dideskripsi oleh C.L. Koch pada tahun 1845. Laba-laba ini pernah dideskripsi ulang dari gambar spesimen kering oleh Doleschall pada tahun 1859 dengan nama yang berbeda. Sebaran jenis ini ada di Jawa dan Sumatra, sementara publikasi terakhir terkait jenis ini terbit pada tahun 1895 (Deeleman-Reinhold, pers comm) .

Sejak saat itu, tidak ada catatan atau laporan tentang laba-laba misterius ini. Laba-laba ini seperti hilang ditelan bumi. Bahkan sampai saat ini jantan dari spesies yang sama belum pernah ditemukan. Rasa-rasanya aneh, jika laba-laba berukuran besar dengan warna yang mencolok seperti itu sangat sulit dijumpai di alam. Dan mungkin saja jawaban atas hilangnya jenis yang diklaim sebagai salah satu laba-laba tercantik di kawasan oriental ini adalah.

Setelah ratusan tahun bak tak terjamah, beberapa waktu yang lalu laba-laba misterius ini kembali muncul. Bersarang dengan membuat lipatan pada daun pohon coklat, (cacao) laba-laba ini nampak nyaman dalam shelter yang berbalut benang-benang berwarna keemasan. Lagi-lagi ini adalah laba-laba betina. Tubuhnya didominasi warna kuning cerah, dengan spot-spot berwarna hitam pada cephalotorax dan abdomen. Warna hitam juga ditemukan pada tibia hingga tarsus. Satu lagi yang ganjil pada laba-laba ini adalah tidak nampaknya mata, mungkin terlalu kecil atau tersamarkan oleh warna.

Informasi taksonomi
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Arachnida
Ordo: Araneae
Famili: Thomisidae
Genus: Platythomisus
Spesies: P. octomaculatus

Special thanks to:
-Christa L. Deeleman-Reinhold for valuable information
-Bayu dan Murdiono untuk penemuan laba-laba yang cantik ini.

Rabu, 19 Mei 2010

Schizomid

Kingdom: Animalia
Phyllum: Arthropoda
Class: Arachnida
Order: Schizomida

Common name: shorttailed whipscorpion

This small schizomid collected from under a woodpile in Menoreh
(Photograph by Anang HK)

Rabu, 12 Mei 2010

Ant mimic spider (lagi)

Myrmarachne cf. assimilis mimicking to Oecophylla smaradigna. (weaver ants)
Photograph by Anang H. Kurniawan
Thanks to X. Nelson for your suggestion

Selasa, 11 Mei 2010

RTA clade: Lycosoidea


Gambar: Anggota Lycosoidea, dengan keterangan susunan mata
1. Pisauridae
2. Lycosidae
3. Oxyopidae

Jumat, 07 Mei 2010

Panggilan kelompok minoritas

Laba-laba sejati (Araneae) ditambah dengan Acari menyusun 87,5 % dari total arachnid yang telah diketahui di muka bumi. Besar kemungkinan jumlah tersebut masih akan terus bertambah mengingat temuan jenis-jenis baru untuk kelompok ‘mayoritas’ tersebut intensitasnya masih tinggi. Opiliones, Scorpiones, Pseudoscorpiones, Solifugae, Schizomida, Amblypygi, Uropygi, Palpigradi dan Ricinulei merupakan ordo-ordo anggota Arachnida di luar kelompok laba-laba sejati. Jika jumlah jenis-jenis anggota kesembilan ordo tersebut (sebut saja kelompok ‘minoritas’) dijumlahkan, maka hanya akan menyusun kurang lebih 12,5 % dari total spesies anggota Kelas Arachnida.

Penggunaan istilah minor pada kelompok ordo di atas berdasarkan menurunnya jumlah jenis yang dideskripsi (Prendini 2001). Penurunan publikasi jenis baru pada ordo-ordo minor dihubungkan dengan dua faktor utama. Keanekaragaman jenis yang kecil (sebagaimana telah disebutkan) merupakan faktor yang pertama. Sedangkan faktor kedua adalah penurunan jumlah ahli spesialis ordo-ordo yang disebut di atas. Kondisi tersebut nampaknya mengkhawatirkan untuk masa depan pengembangan arachnology, belum lagi ditambah dengan pengetahuan mengenai aspek biologi yang masih jauh dari komprehensif.

Dari uraian sangat singkat di atas, saya tulis: Banyak makhluk-makhluk kecil di sekitar kita, tetapi kita belum sepenuhnya menyadari keberadaan mereka, atau malah justru menutup mata rapat-rapat. Padahal tidak ada hal yang sia-sia dari makhluk ciptaan-Nya.

Photo: A 'scorpion' on my helmet...a symbol of minority? i'm not sure yet...

Keluarga ‘Besar’ Laba-laba Peloncat (Araneae: Salticidae): sebuah tinjauan


Salticidae dan ‘RTA clade’

Laba-laba peloncat (Fam. Salticidae), merupakan keluarga terbesar dalam bangsa laba-laba sejati (Araneae), dengan jumlah jenis yang telah terdeskripsi sekitar 5.000 jenis. Tidak mengherankan jika kelompok ini sangat mudah ditemukan di manapun di seluruh dunia. AME (anterior medial eyes) atau principal eyes, yaitu sepasang mata pada baris depan menjadi penciri untuk membedakan kelompok ini dengan laba-laba lainnya. Pada salticid, ukuran AME berkembang menjadi jauh lebih besar dan mata tersebut memiliki ketajaman penglihatan yang jauh lebih bagus daripada Arthropoda lainnya, bahkan dibandingkan dengan capung.

Meskipun evolusi laba-laba peloncat selalu menjadi teka-teki bagi para ahli, dengan analisis morfologi dan DNA menggunakan teknik kladistik, pola evolusi kelompok ini mulai terlihat. Perkembangan evolusioner laba-laba peloncat menjadi kelompok yang memiliki variasi besar sangat didukung dengan perkembangan yang unik pada penglihatan mereka. Mereka sangat bervariasi dalam morfologi, perilaku berburu, dan perilaku kawin; dan semuanya sangat berkaitan dengan penglihatan. Secara morfologis; mereka menunjukkan kombinasi warna yang unik, beberapa warna cerah seperti hijau, biru, merah, dan kuning, sedangkan lainnya menunjukkan warna-warna gelap. Beberapa jenis memiliki mekanisme meniru morfologi hewan lainnya seperti semut, kumbang, bahkan belalang sembah dan pseudoscorpion. Dalam kebiasaan berburu, strategi mereka bervariasi mulai dari ambushing (sit-and-wait strategy), sampai strategi berburu mengejar-menyergap layaknya kucing. Sedangkan dalam perkawinan kebanyakan mengandalkan visualisasi dan vibrasi.

Saltisidae merupakan anggota RTA clade, grup yang terdiri dari setidaknya setengah dari seluruh laba-laba yang diketahui. Kladus ini beranggotakan laba-laba dengan retrolateral tibial apophysis pada pedipalpi individu jantan. Famili-famili anggotanya (dengan beberapa pengecualian) adalah laba-laba yang telah kehilangan kemampuan membangun sarang. Asal usul saltisid sering dikaitkan erat dengan evolusi clubionid, thomisid, dan philodromid grup terutama dalam hal kemajuan alat penglihatan (khususnya mata primer), dan kemampuan menggerakkan retina menggunakan otot.

Sebagai anggota RTA clade, salticid dan beberapa famili kelompok pemburu dengan dua cakar bergabung dalam grup Dionycha. Pengetahuan mengenai hubungan filogeni antar dionychan sejauh ini diketahui dari studi filogeni molekuler intra familial, dengan menempatkan anggota famili lain sebagai outgrup. Corinnidae, Miturgidae, Gnaphosidae, Thomisidae, dan Philodromidae merupakan famili yang kemungkinan berkerabat dengan laba-laba peloncat. Sampai saat ini, berbagai studi filogeni memperkuat dugaan bahwa Salticidae adalah monophyletic grup jika dibandingkan dengan famili lainnya.

Salticoida

Ini mungkin kelompok paling maju dalam evolusi salticid. Tersusun oleh mayoritas jenis salticid yang ada saat ini, kelompok salticoid memiliki retina AME yang melengkung tajam. Beberapa perubahan evolusioner lainnya terjadi pada mata lainnya (di luar AME), misalnya mereduksinya PME (posterior medial eyes) yang mungkin terkait dengan pengembangan mata sekunder lainnya, serta perkembangan pada mata sekunder (anterior lateral eyes dan posterior lateral eyes). Perubahan pada susunan mata dan ketajaman penglihatan pada mata primer maupun sekunder, mengindikasikan bahwa penglihatan merupakan bagian utama evolusi pada salticid.

Ref:
Hill, David E.; and Richman, David B. 2009. The evolution of jumping spider (Areneae: Salticidae): a review. PECHKAMIA 75.1

Senin, 03 Mei 2010

Delapantungkai arachnochart: Ini dia enam monster bertungkai delapan di kegelapan gua-gua kawasan Menoreh


Semuanya unik, menarik, dan mereka adalah pemangsa yang luar biasa. Apa jadinya jikalau ‘monster-monster’ gua berebut posisi untuk menempati posisi teratas dalam chart monster paling luar biasa? Siapakah yang paling layak dinobatkan sebagai king of the king? Ini dia hasil penilaian delapantungkai:

Di mulai dari posisi keenam ada Uropygi, hewan bertungkai delapan yang sering ditemukan di sekitar mulut gua. Meskipun lebih sering dijumpai di sekitar mulut gua, Uropygi juga pernah tercatat sampai zona gelap total. Perilaku mengeluarkan zat berbau mirip cuka menjadikannya dipanggil kalacuka.
Ordo: Uropygi
Famili: Thelyphonidae

Suatu saat nanti, dia mungkin saja bisa menduduki urutan atas! Hewan yang luar biasa, tercatat hidup dalam zona gelap total, dengan strategi pemangsa yang juga luar biasa. Hidup di atap gua, membangun jaring penjerat dan menunggu mangsa, sungguh predator yang efektif. Seekor troglomorph nocticolid yang kurang beruntung pernah tercatat jatuh ke perangkap dan menjadi santapan lezat hewan ini. Bentuk sarang merujuk ke kelompok cob-web weaver (nesticid-kah?). Meskipun didukung dengan catatan awal yang menggambarkan reputasi yang nampaknya luar biasa; tetapi dengan masih sangat terbatasnya catatan perjumpaan, hanya mampu menempatkannya di urutan kelima
Ordo: Araneae

Di posisi keempat ada laba-laba pemanen Opiliones, bentuk tubuhnya membulat dengan batas antara cepalothorax dan abdomen yang tidak jelas. Tungkai-tungkainya sangat panjang, sepasang tungkai kedua berfungsi sebagai alat perasa. Hidup pada dinding-dinding gua atau di atas batu-batuan, mereka menunggu mangsa yang lewat.
Ordo: Opiliones

Posisi ketiga ditempati oleh kalacemeti Stygophrynus dammermani. Berukuran sedang dengan tubuh berwarna coklat gelap, 3 spina dorsal pada pedipalpi membedakannya dengan sang kerabat dekat Charon grayi dari kawasan Gn Sewu. Mereka hidup pada dinding-dinding gua, terutama dekat dengan tumpukan guano. Mangsa mereka berupa arthropod kecil seperti jangkerik.
Ordo: Amblypygi
Famili: Charontidae
Genus: Stygophrynus
Jenis: S. dammermani

Besar, kuat, dan terdistribusi luas. Nampak mendominasi kelompok predator gua, laba-laba sparassid dari Marga Heteropoda ini layak mendapat kehormatan untuk menempati runner-up monster permangsa luar biasa di gua-gua Menoreh. Bentangan tungkai mereka hampir menyamai bentangan tangan orang dewasa. Mereka menunggu jangkerik gua yang lewat dan menyergap. Jangkerik yang tertangkap akan dibalut dengan benang halus dan direkatkan di batuan untuk membantu memudahkan proses ingesti. Telur laba-laba ini dibungkus dengan kantung berwarna gelap dan selalu dibawa dengan cara dikaitkan pada kelisera.
Ordo: Araneae
Famili: Sparassidae
Genus: Heteropoda

Dan inilah sang jawara monster kegelapan…! Kedelapan mata mereka mereduksi hingga hanya meninggalkan bekas berupa titik-titik kecil berwarna putih. Laba-laba berwarna coklat muda hingga kuning pucat ini tidak merespon cahaya, tetapi mereka menanggapi rangsangan berupa sentuhan dan aliran udara yang dikejutkan. Tungkai-tungkai dilengkapi dengan rambut-rambut halus yang disebut trichobotria, yang fungsinya sebagai alat sensor. Mereka mungkin membutuhkan lingkungan yang spesifik, karena sampai saat ini hanya ada tiga koloni yang diketahui. Proses deskripsi untuk jenis baru ini masih dikerjakan.
Unik, langka, dan kenampakan morfologi yang menunjukkan tingkat adaptasi yang tinggi menempatkan laba-laba buta Menoreh sebagai king of the king untuk monster kegelapan Menoreh, versi delapantungkai!
Ordo: Araneae

Mengingat ketersediaan data yang masih terbatas, penilaian tentu saja bersifat subjektif. Akan tetapi semoga memberikan sedikit informasi untuk para pembaca yang budiman. Cave arachnids masihlah sebuah tantangan besar untuk dipelajari! Salam hangat dari dinginnya lorong gelap dan lembab...

Senin, 19 April 2010

Lucu, imut, menggemaskan, dan dia cerdas!



Laba-laba peloncat (anggota Famili Salticidae) tampaknya kontras dengan laba-laba lainnya. Jika laba-laba lainnya menunjukkan ‘ketidak sukaannya’ terhadap sesuatu yang asing bagi mereka , salticid sepertinya justru tertarik. Mereka tidak sungkan meloncat ke tangan kita dan dengan penglihatan yang tajam, memeriksa segala sesuatu. Tingkah mereka yang seperti itu nampak lucu dan menggemaskan, dan keingintahuan itu menunjukkan mereka memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. I love this spider!

Mereka yang dikaruniai penglihatan luar biasa

Hyllus diardi (Dok. Sidiq Harjanto)

Sepasang mata median anterior (AME) itu tampak besar, jauh lebih besar daripada ke enam mata lainnya. AME mudah digunakan untuk membedakan Famili Salticidae dari famili lainnya. Seperti sebagian besar laba-laba lainnya, salticid memiliki 8 mata, tetapi pada umumnya sepasang mata median di deretan belakang berukuran sangat kecil sehingga sulit diamati dengan mata telanjang.

AME bisa dikatakan spesial bagi laba-laba kelompok ini. Penglihatan mereka jauh lebih baik daripada rata-rata sebagian besar invertebrata terestrial lainnya. Enam otot yang berbeda bekerja pada AME, dan mata dilengkapi dengan 3 opsin sehingga mereka memiliki penglihatan trikromatik (Hill & Richman 2009). Dengan penglihatan yang baik, sebagian besar salticid hidup diurnal dan mengandalkan mata mereka untuk menemukan mangsa dan membantu sistem navigasi.

Pada foto di atas, nampak seekor laba-laba salticid menunjukkan sikap siaga dengan mengangkat dua pasang kaki depannya. Eksperimen sederhana dengan menghadapkan laba-laba peloncat ke bayangan mereka di cermin seperti dalam foto di atas mungkin dapat menjadi bukti bahwa laba-laba itu memiliki penglihatan yang tajam.

Selasa, 13 April 2010

Apakah anda orang yang tidak mudah tertipu…?


Siapakah sebenarnya penipu paling ulung di dunia…? Mungkin tidak ada orang yang tahu pasti… Ah, itu semua tidak terlalu penting untuk di bahas. Yang lebih penting adalah, apakah Anda termasuk orang yang tidak mudah tertipu…?

Berikut ini adalah sebuah tes sederhana untuk melihat tingkat kehati-hatian Anda…
Inilah pertanyaannya:

1. Pernyataan manakah yang menurut Anda paling tepat untuk foto di atas?
a. Saya yakin foto seekor semut, dengan kepala di sebelah kanan
b. Saya yakin foto seekor semut, dengan kepala di sebelah kiri
c. Saya yakin foto seekor semut, tapi saya ragu-ragu mana kepala, mana perut…
d. Saya ragu-ragu apakah itu benar-benar seekor semut
e. Saya yakin itu bukan foto seekor semut

Nah apakah jawaban Anda?
Jika Anda menjawab a, Anda termasuk orang yang cukup berhati-hati…tapi nampaknya Anda kurang beruntung, karena masih saja tertipu…
Jika jawaban anda b, nah ini paling celaka…Anda tertipu dua kali ….
Kalau jawab c, Anda juga cukup berhati-hati mencermati…tapi tetap saja Anda tertipu
Bagi yang menjawab d, Anda lebih beruntung daripada yang menjawab a,b, dan c. Tapi semoga keraguan Anda cukup beralasan.
Nah yang menjawab e….selamat, Anda orang yang tidak mudah tertipu!! Tapi semoga saja Anda punya alasan yang jelas memilih opsi d…bukan faktor luck…

Jadi memang benar, dalam foto itu bukan seekor semut. Jika dicermati lebih detail lagi beberapa hal ganjil yang cukup jelas: 2 mata besar menyeramkan itu jelas bukan mata seekor semut, dan ‘antenna’ itu bukan keluar dari kepala, melainkan dari bagian dada (thorax), jadi lebih tepat dibilang sepasang tungkai terdepan yang dimodifikasi. Trus satu lagi, mana ada semut punya pedipalpi gitu…dia telah menipu kita kawan2…hahaha. She is a spider…yes, an ant mimicking spider!

Foto: ant-mimicking spider from Menoreh (Salticidae) oleh Sidiq Harjanto

Sabtu, 10 April 2010

Jujur, saya pengidap arachnophobia!


Setelah tulisan-tulisan sebelumnya lebih banyak bercerita tentang laba-laba dan kerabatnya, sekarang saatnya bercerita tentang diri saya; meskipun tetap saja ada kaitannya dengan laba-laba.

Semuanya berawal saat saya duduk di kelas III SD (kalau tidak salah)

Masa kecil saya…? Saya besar di sebuah kampung kecil, di pelosok Provinsi DIY. Bersama keluarga, kami menghuni sebuah rumah kecil yang di depannya ada hamparan sawah yang tampak menguning seperti emas jika musim panen tiba. Sedangkan di belakang rumah ada perbukitan Menoreh, yang tampak hijau saat musim hujan; tapi berubah menjadi kering dan gersang saat kemarau datang. Maklumlah, sebagian besar ditanami jati dan mahoni. Tidak ada yang terlalu menonjol dari diri saya. Saya bukan anak yang jenius, yang selalu membuat teman-teman terkagum-kagum. Tapi bukan juga anak bebal..wong saya belum pernah tinggal kelas. Kalo nakal, sepertinya nggak juga…Cuma sekali saya berantem, itupun dikeroyok…hehe.

Pagi itu, seperti biasa saya berangkat ke sekolah dengan perasaan gembira, ya…yang namanya anak-anak, lebih banyak seneng daripada sedihnya… Jam pertama dimulai, ‘anak-anak, bukunya dikeluarkan ya…!’ begitu kata bu guru. Tanpa berlama-lama, saya buka tas saya. Tapi saya merasakan ada sesuatu yang aneh saat saya memasukkan tangan ke dalam tas itu. Tiba-tiba waktu seperti berhenti...tapi saya justru semakin merasakan bahwa ada yang bergerak-gerak merayapi tangan kecil saya. Sontak saya tarik tangan dari dalam tas…dan…jantung ini rasanya copot ketika saya lihat seekor laba-laba sebesar jari orang dewasa nampak panik…merayapi tangan saya. Aaaaa…saya menjerit (tapi nggak selebay yang Anda bayangkan lho…). Laba-laba kabur… dan hanya tersisa saya dengan tampang bloon, serta tatapan aneh bu guru dan teman-teman… Gerrr…saya malah jadi bahan tertawaan deh…

Usut punya usut ternyata malam hari sebelum kejadian memalukan itu, saya lupa menutup tas setelah mengerjakan PR, belajar (apa iya..?), dan mempersiapkan buku-buku untuk esoknya. Nah kemungkinan si laba-laba itu menyelinap di tas saya malam hari saat saya tertidur pulas.

Dari peristiwa itulah saya mendapatkan trauma mendalam tentang laba-laba, sama seperti trauma saya dengan makhluk bernama kodok! Dua hewan itu selalu jadi momok dalam keseharian saya semasa kecil, bahkan sampai sekarang.. Dulu saya takut semua jenis laba-laba, dari yang berukuran kecil, apalagi yang berukuran lebih besar dari jari. Bahkan, percaya nggak percaya, melihat jaring-jaringnya saja bisa merinding.

Terapi itu saya sebut ‘witing tresno kudu dipekso

Penderitaan saya masih belum berakhir, bahkan saat saya sudah kuliah dan masuk organisasi mapala. Pengalaman caving (penelusuran gua) pertama kali, sudah disambut oleh Amblypygi (kalacemeti), membuat saya bergidik nggak karuan... Dan caving-caving berikutnya pun seperti itu, ketakutan dan kecemasan utama saya bukan pada gelapnya gua atau harus menuruni luweng menggunakan Single Rope Tecnique; tapi bagaimana ya kalau tiba-tiba ada Amblypygi menggerayangi saya…atau tanpa sengaja menyentuh ‘bokong’ besarnya itu….

Saya mulai sadar bahwa trauma masa kecil itu masih membekas, dan saya menyadari bahwa saya adalah pengidap arachnophobia. Sebuah ketakutan berlebihan pada laba-laba dan kerabatnya (arachnid). Lama-lama saya bosan dengan kecemasan-kecemasan itu, ‘ini harus segera diakhiri!’ pikir saya. Terapi itu saya awali dari Amblypygi; yang ini jenis Charon grayi, nggak main-main (untuk seorang pengidap arachnophobia), maklum karena ukurannya besar dan memang terkesan mengerikan. Saya coba kumpulkan semua keberanian, konsentrasi…; saya tatap lama-lama Amblypygi itu dalam jarak semakin dekat, saya sentuh ‘bokongnya’…dan…serrr…gerakan tiba-tiba hewan itu masih saja membuat jantung saya serasa mau copot. Nah ini adalah poin yang pertama kali saya ambil. Kaget oleh gerakan tiba-tiba! Mostly, arachnid memang sering membuat gerakan tiba-tiba jika merasa terancam, entah berlari atau menunjukkan posisi siaga. Dari pembelajaran ini saya berkesimpulan bahwa jika hewan itu saya tangkap, berarti dia tidak akan mengagetkan lagi. Cukup lama saya mengumpulkan keberanian untuk melakukannya…hanya keinginan kuat untuk sembuh dari trauma berkepanjangan dan keyakinan bahwa hewan itu tidak berbahaya, menjadi modal saya. Akhirnya…dengan kecepatan tinggi saya terkam hewan berkaki 8 itu, saya rasakan gerakan tungkai-tungkainya di telapak tangan. Ya…saya sudah memegangnya!! Wow…rasanya seperti memenangkan pertarungan gladiator…!

Mulai saat itulah sedikit demi sedikit saya mengatasi ketakutan terhadap laba-laba dan kerabatnya. Sudah lumayan, meskipun rasa cemas dan takut masih sering menghinggapi terutama untuk jenis-jenis bertubuh bongsor macam tarantula. Dan justru sekarang yang saya rasakan adalah semakin mencintai mereka…

This confession dedicated to Charon grayi, an enigmatic whip spider.

Reproduksi pada bangsa laba-laba dan kerabatnya

Semua makhluk hidup memiliki mekanisme untuk mempertahankan eksistensi spesiesnya. Melalui mekanisme yang disebut reproduksi, spesies-spesies bertahan dari kepunahan. Keturunan hanya akan terjadi jika individu-individu yang melangsungkan perkawinan merupakan spesies yang sama.

Tidak perlu berpanjang lebar membahas reproduksi makhluk hidup secara umum, langsung pada pembahasan mengenai perkembangbiakan pada laba-laba dan kerabatnya. Secara umum dapat dikatakan Arachnida bereproduksi secara seksual dengan fertilisasi bersifat internal, sama seperti pada manusia. Hanya saja perlu diketahui bahwa proses yang berlangsung tidak sama dengan reproduksi pada manusia dan hewan tingkat tinggi lainnya. Pada laba-laba dan arachnid lainnya, sperma individu jantan dimasukkan ke dalam tubuh individu betina dengan tidak menggunakan organ genital jantan. Dengan kata lain, ada fase yang disebut fase intermediet sebelum terjadinya fertilisasi. Adanya fase intermediet juga terjadi pada beberapa serangga tak bersayap, dan myriapod.

Amblypygi (whip spider) memiliki 5 tahapan dalam proses perkawinan (Weygoldt 2000). Dimulai dari tahap percumbuan, ditandai dengan ritual tertentu sebagai bentuk persiapan. Pada beberapa jenis jantan dan betina melakukan ‘tarian’ unik. Tahap selanjutnya adalah pembentukan spermatophore sebagai alat transfer spermatozoa kepada betina. Individu jantan kemudian melakukan atraksi untuk menarik/memikat sang betina agar mengambil sperma dari spermatopore. Tahapan tersebut kemudian diikuti dengan proses transfer spermatozoa dari spermatophore ke tubuh individu betina. Keempat tahapan diakhiri dengan ritual pascakawin. Setiap tahapan di atas bervariasi pada tiap jenis.

Laba-laba (khususnya Araneomorphae, Entelegyne) memiliki mekanisme yang berbeda, sperma disimpan dalam pilinan benang dan selanjutnya ditransfer ke organ khusus pada ujung pedipalpi sang jantan. Proses percumbuan seringkali beresiko bagi jantan, mengingat sifat dominan individu betina. Jantan harus mampu mengenali bahwa individu betina berasal dari jenis yang sama dan siap untuk kawin. Tarian khusus dilakukan untuk menghindari pemangsaan oleh betina. Ritual percumbuan sangat menentukan keberhasilan perkawinan, mengingat kesalahan sedikit dalam ritme vibrasi atau sentuhan bisa berakibat fatal bagi sang jantan.

Jika proses percumbuan berhasil, maka individu jantan dapat mentransfer spermanya ke tubuh sang betina melalui organ yang disebut epygnum yang berada pada ventral abdomen. Laba-laba menggunakan R-strategy dalam bereproduksi, artinya menghasilkan banyak anak. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi, betina dapat menghasilkan ribuan telur. Adelocosa anops (Lycosidae) dari beberapa gua di Hawaii hanya menghasilkan 15-30 butir telur (Kendall & Reyer 2006), meskipun pada lycosid epygean setidaknya menghasilkan 100 butir telur. Mengingat tingkat reproduksi yang rendah dan tekanan kerusakan habitat, jenis troglobit tersebut telah masuk list endangered.

Telur laba-laba disimpan dalam kantong, yang memiliki fungsi utama untuk melindungi telur dan menjaga kelembaban agar tetap stabil. Induk betina memiliki mekanisme berbeda-beda dalam menjaga telur, antara lain dengan menyimpan dalam sarang, membawanya dengan chelicera, atau menempelkan pada ventral menggunakan benang. Betina pada beberapa jenis mati setelah bertelur.

Beberapa jenis laba-laba dan arachnid lainnya memiliki perhatian khusus pada anak-anak mereka. Bentuk perhatian tersebut misalnya dengan menggendong di bagian dorsal abdomen, atau dengan cara memberikan makanan selama bayi-bayi masih lemah.


Foto: kantung telur

Mereka memang unik!

Rata Penuh
Ini adalah beberapa fakta mengenai laba-laba, yang menurut saya unik:

1. Sampai saat ini, tak kurang dari 38.000 jenis telah diketahui. Araneae merupakan ordo terbesar ke-7 untuk semua organisme.

2. Semua laba-laba menghasilkan benang dari organ yang disebut spinerret, tetapi tidak semuanya membangun jaring. Selain kelompok pembuat jaring, ada kelompok lain yang menggunakan benang sebagai ‘safety rope’.

3. Sebagian besar laba-laba menunjukkan dimorfisme seksual yang kuat, betina lebih dominan. Pada beberapa jenis, laba-laba jantan harus melakukan ‘ritual percumbuan’ khusus untuk sekedar mendekati betinanya agar tidak dimakan.

4. Beberapa laba-laba lainnya bereproduksi secara parthenogenesis.

5. Jika bagian prosoma (cephalotorak) seekor laba-laba ditusuk, maka laba-laba itu tidak bisa menggerakkan tungkai-tungkainya. Hal ini karena laba-laba menggunakan sistem hidrolik untuk menggerakkan alat-alat gerak mereka.

6. Laba-laba peloncat memiliki penglihatan tajam, bahkan dapat mencapai 10 kali lebih tajam daripada capung, serangga dengan penglihatan terbaik. Meskipun demikian, manusia memiliki penglihatan 5 kali lebih tajam daripada laba-laba peloncat.

7. Venom (agar tidak rancu dengan poison) laba-laba dihasilkan oleh organ khusus di dekat basal chelicera dan disuntikkan menggunakan dua buah taring di bagian depan prosoma. Racun tersebut bersifat neurotoksin.

8. Semuanya jenis yang diketahui adalah predator, kecuali Bagheera kiplingi (Salticidae) sebagai jenis pertama yang diketahui sebagai herbivor.

(dari berbagai sumber)
Foto: spinerret

Selasa, 06 April 2010

Perilaku makan laba-laba

Keluarga laba-laba memiliki variasi dalam perilaku makan, khususnya dalam mendapatkan mangsa. Kelompok penenun (weaver) mungkin yang paling familiar. Mereka membangun jaring penjerat dengan bentuk tertentu, menunggu, dan menyergap mangsa yang terjerat. Mekanisme yang berlaku pada kelompok ini nampaknya dapat dibagi menjadi 4 tahapan yaitu: mendapatkan posisi menurut faktor-faktor lingkungan, membangun jaring penjerat, melumpuhkan mangsa yang terjerat, dan proses mencerna (Leborgne et. al 1991). Faktor-faktor yang diduga berkorelasi dengan penentuan posisi jerat antara lain faktor klimat, faktor fisik (benang), kemelimpahan mangsa, dan keberadaan kompetitor. Cob-web sering memodifikasi jaring jerat mereka dengan menambahkan shelter dari daun (foto ada di bagian lain dalam blog ini).

Kelompok lain memiliki mekanisme ‘duduk dan menunggu mangsa’. Mereka tidak membangun jerat, melainkan menunggu mangsa yang mendekat dan menyergap dengan kecepatan tinggi. Kamuflase merupakan salah satu kunci keberhasilan predator tipe ini. Thomisid (laba-laba kepiting) misalnya, seringkali memiliki warna-warna cerah menyerupai bunga; sedangkan laba-laba lainnya kadang nampak menyatu dengan batang pohon. pada sarang berbentuk lubang di tanah. Tarantula, laba-laba primitif Lyphistiidae, dan laba-laba trapdoor berdiam di lubang pada tanah dan menyerang mangsa yang mendekati sarang mereka (diadopsi dari wikipedia).

Selain mekanisme yang disebutkan di atas, kelompok lainnya menggunakan strategi berburu aktif. Laba-laba pemburu dilengkapi dengan kemampuan mata yang luar biasa dalam mengidentifikasi keadaan di sekeliling mereka. Salticidae (laba-laba peloncat) dan Lycosidae (laba-laba serigala) merupakan contoh yang mudah ditemukan di sekitar kita. Mereka umumnya aktif pada siang hari (diurnal). Salticid memburu mangsa dengan bantuan benang sebagai pengaman sehingga membentuk semacam trek, karena kelompok ini umumnya arboreal. Sedangkan laba-laba serigala biasanya berburu di tanah atau pada pangkal tanaman rendah. Beberapa laba-laba bahkan nampak memiliki kecerdasan yang luar biasa. Mereka dapat menyusup ke dalam koloni musuh karena mengembangkan adaptasi morfologi hingga menyerupai musuh.

Bagheera kiplingi (Salticidae) mungkin memiliki perilaku yang paling aneh dalam dunia laba-laba. Jenis yang ditemukan di Amerika tengah ini merupakan laba-laba yang pertama kali diketahui sebagai vegetarian, karena nutrisi utama mereka di ambil dari dedaunan dan nektar.

Foto: 'sit-waiting and then rapidly atacking' strategy in Sparassid

Senin, 05 April 2010

Arachnofauna di gua-gua kawasan Menoreh

Laba-laba dan kerabatnya mampu bertahan dalam berbagai habitat. Bahkan di lingkungan yang ekstim seperti gua. Karakteristik lingkungan gua antara lain: tidak adanya cahaya, kelembaban yang sangat tinggi, gas karbondioksida yang berlimbah, dan radiasi gas rhadon (Howarth 1993). Dengan kondisi demikian, maka hewan-hewan gua (dan habitat subterran lainnya) memiliki mekanisme adaptasi morfologi, fisiologi, dan tingkah laku. Belum lagi dengan adanya keterbatasan nutrisi, hewan gua harus mengefektifkan metabolisme tubuh. Pada organisme dengan level adaptasi tinggi (cave obligat organism), sebagian besar energi dialokasikan untuk berkembangbiak sebagai bentuk menjaga eksistensi spesies.

Kiranya masih terlalu dini untuk banyak berbicara tentang biospeleologi di Indonesia, karena saat ini tantangan terbesar justru masih pada eksplorasi fauna gua dan memecahkan berbagai kendala taksonomis yang ada. Karena faktanya banyak jenis-jenis hewan gua belum teridentifikasi atau bahkan belum dideskripsi. Pengumpulan data mengenai Arachnida sebagai salah satu penyusun keanekaragaman fauna gua, masih menjadi tantangan besar untuk saat ini. Arachnid gua merupakan komponen penting dalam ekosistem gua mengingat perannya sebagai predator.

Kawasan karst sempit di Menoreh (Kawasan karst Jonggrangan) ternyata memiliki keanekaragaman jenis-jenis Arachnida yang tinggi. Berikut ini adalah sedikit informasi atau catatan awal mengenai jenis-jenis arachnid yang sering dijumpai di beberapa gua di Menoreh:
1. Amblypygi (Stygophrynus dammermani). Kalacemeti yang satu ini termasuk dalam Famili Charontidae. Ukuran tubuhnya relatif lebih kecil daripada kerabat dekatnya, Charon grayi, jenis dari kawasan Gunung Sewu. Ciri utama untuk membedakan dengan Charon adalah spina dorsal pada tibia pedipalpi berjumlah 3 (pada Charon berjumlah 2). Kalacemeti sangat umum dan sering dijumpai pada dinding gua, atau di tanah dekat dengan guano. Mangsa utamanya mungkin jangkrik gua dan serangga kecil lainnya.
2. Uropygi (Theliphonidae?). Nama daerahnya adalah kalacuka, mungkin karena hewan ini mengeluarkan zat yang berbau mirip cuka jika merasa terganggu. Meskipun relatif jarang ditemukan, hewan ini kadang dapat dijumpai di sekitar mulut gua sampai zona peralihan. Meskipun pernah ditemukan juga sampai zona dalam.
3. Opiliones. Hewan ini cukup mudah ditemukan, namun karena ukuran tubuhnya relatif kecil (tubuh berukuran kurang dari 1 cm), maka kebanyakan orang kurang memperhatikannya. Biasanya mereka merayap pada dinding gua dan bersembunyi di lubang jika diganggu
4. Laba-laba Sparassidae (Marga Heteropoda). Ini adalah jenis dengan ukuran yang besar yang umum dijumpai di gua-gua kawasan Menoreh. Terkadang tubuh dan bentangan tungkai-tungkainya hampir seukuran telapak tangan orang dewasa. Mereka menghabiskan waktu dengan berdiam, menunggu mangsa yang bergerak mendekat, jangkrik gua adalah menu utama. Laba-laba betina membawa kantong telur yang berukuran lebih besar daripada tubuhnya di bagian ventral tubuhnya.
5. Laba-laba lainnya, nampak seperti pholcid, membangun sarang mereka yang tidak beraturan pada celah-celah batuan atau sudut-sudut dinding gua. Satu individu jenis ini sering bersarang bertetangga dengan individu lainnya, menyerupai sebuah perkampungan kecil laba-laba.
6. Dan ‘the most interesting’, adalah satu jenis lagi laba-laba yang kemungkinan buta. Ini berdasarkan ditemukannya reduksi ekstrim pada ke delapan mata mereka hingga menyisakan spot-spot kecil berwarna putih. Sejak ditemukan akhir tahun 2008, populasi jenis ini hanya ditemukan di 3 gua, dan survei ke gua-gua lainnya masih terus dilakukan. Mereka mungkin memiliki habitat yang spesifik; dan dari beberapa catatan penemuan, laba-laba ini terbatas di lorong-lorong terdalam, dekat dengan genangan air atau aliran sungai kecil. Beberapa individu berbagi habitat dengan jenis-jenis troglomorphic seperti Isopoda, millipedes, dan Nocticolidae. Sambil menunggu proses deskripsi, mungkin tidak berlebihan jika kita sebut jenis ini sebagai kandidat baru untuk dimasukkan dalam list troglobit di Indonesia khususnya Jawa.

Tulisan di atas sebatas informasi yang masih sangat dangkal mengenai Arachnida gua, sedangkal pengetahuan penulis. Dan tentunya kita semua berharap bahwa arachnologi di Indonesia semakin membumi hingga menyentuh masyarakat luas. Dan semoga tulisan ini dapat diterima sebagai kontribusi kecil dalam memasyarakatkan laba-laba beserta kerabatnya.

*Foto narsis edition: Temonggo bersama adik2 Matalabiogama F. Biologi UGM (Agus ‘Kremi’, Azis ‘Temon’, Hanifah ‘Cempreng’, dan Umi ‘Syumbai’) saat mengunjungi salah satu gua di Menoreh. Thanks for togetherness.

Senin, 29 Maret 2010

Lycosidae: dari sahabat petani hingga penghuni kegelapan abadi

Famili Lycosidae, atau sering dikenal sebagai wolf spider, merupakan laba-laba yang umum dijumpai di areal persawahan atau padang rumput. Mereka dikaruniai penglihatan yang sangat baik, sehingga beberapa di antara lycosid memiliki gaya hidup pengembara, seperti Ctenidae (wandering spider) dan beberapa laba-laba peloncat (Salticidae). Tidak seperti kelompok orb weaver, cob-web weaver, dan funnel weaver yang menggunakan jaring untuk menjerat mangsa; kelompok pemburu dan pengembara aktif memburu dan mengejar mangsa. Biasanya mangsa mereka adalah serangga seperti belalang, jangkerik, maupun wereng.

Sebagai pemburu aktif yang umum hidup dipersawahan, jenis-jenis wolf spider nampaknya memiliki peranan yang baik dalam menjaga keseimbangan ekosistem persawahan. Terutama kaitannya dalam mengontrol populasi serangga yang berpotensi hama seperti wereng. Untuk alasan itu, kiranya tidak muluk-muluk saya mencantumkan frasa 'sahabat petani' pada judul artikel ini.

Adelecosa anops, jenis yang hanya ditemukan di beberapa gua lava di Pulau Kauai, Kep Hawai; dinyatakan sebagai obligat gua. Ciri-ciri fisik seperti mata yang mereduksi total, dan pigmentasi yang juga mereduksi menjadikan jenis ini sangat unik. Keunikan, sebaran yang terbatas, dan ancaman terhadap eksistensi jenis ini telah menggugah banyak pihak dalam upaya penyelamatan. US Fish and Wildlife Service memasukkan jenis itu dalam kategori Endangered.

Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Ordo : Araneae
Subordo : Opistothelae
Infraordo : Araneomorphae
Superfamili : Lycosoidea
Famili : Lycosidae

*Foto: Lycosidae

Jumat, 26 Maret 2010

Spider Watching, mungkinkah?

Kalau istilah bird watching (pengamatan burung) dan butterfly watching (pengamatan kupu-kupu) mungkin sudah tidak asing di telinga kita. Toh dewasa ini beberapa kawasan taman nasional di Indonesia, dan bahkan beberapa agen wisata sudah mengembangkan kedua kegiatan itu sebagai bagian dari wisata berwawasan alam, atau populer dengan istilah ekowisata. Dari tahun ke tahun peminat pengamatan hewan liar, terutama burung dan kupu-kupu, nampaknya semakin mengalami peningkatan. Ini didukung dengan maraknya kampanye antieksploitasi hewan liar, yang kemudian dikonversi ke tren baru, menikmati keindahan satwa di habitat aslinya.

Spider watching? Pengamatan laba-laba? Mungkin sangat asing di telinga orang Indonesia. Tapi percaya tidak percaya, aktivitas ini telah berkembang cukup pesat di negara-negara maju terutama di Amerika dan Eropa. Para penggemar laba-laba saat ini tidak hanya menjadikan laba-laba sebagai hewan kesayangan. Tetapi lebih dari itu mereka pergi ke berbagai tempat, mencari laba-laba di habitat asli, mengamati, mengidentifikasi, dan mendokumentasikannya. Setidaknya identifikasi dapat dilakukan sampai famili, dan lebih baik lagi sampai taksa yang lebih rendah. Mengingat kawasan subtropis memiliki keragaman jenis yang relatif rendah, didukung dengan majunya araneology (ilmu yang mempelajari laba-laba) di negara-negara barat, maka telah banyak tersedia buku panduan pengamatan (field guide), dengan gambar dan dilengkapi deskripsi jenis.

Mungkin nampak seperti pekerjaan yang aneh dan sia-sia. Tetapi jikalau dilihat lebih cermat lagi, aktivitas seperti itu banyak juga manfaatnya. Apalagi kalau berbicara tentang Indonesia yang notabene negara megabiodiversity (meskipun sayangnya belum sepenuhnya sadar akan kekayaan itu), pastilah sangat banyak jenis laba-laba yang dapat ditemukan. Dan mungkin juga jenis baru! Setidaknya kita akan lebih mengenal kekayaan alam negeri kita ini, dan lebih menghargai makhluk hidup ciptaanNya. Jadi apa salahnya kalau sekali-sekali cobalah mengamati dunia kecil milik laba-laba.

Mengamati laba-laba itu mudah, murah, dan mengasyikkan!

Mudah, karena sangat mudah menemukan laba-laba. Di pepohonan, di rimbunan rumput, di sekitar kolam, di balik batuan, di langit-langit rumah, bahkan di kolong tempat tidur Anda, sangat mungkin kita dapat menemukan makhluk berkaki 8 itu.
Murah, karena Anda tidak perlu repot-repot membawa berbagai peralatan mahal untuk dapat mengamati laba-laba. Buku panduan sederhana, lensa pembesar, dan kamera (jika ada) akan sangat membantu.
Mengasyikkan, ini mungkin baru dapat dirasakan jika sudah menemukan sensasi dari spider watching. Semakin sering mengamati laba-laba, akan semakin Anda tertantang menemukan jenis lain. Jika Anda mengidap arachnophobia (takut laba-laba dan kerabatnya), mungkin spider watching bisa menjadi terapi. Dimulai dari jenis-jenis yang kecil menggemaskan seperti lynx spider dan laba-laba peloncat (Salticidae) semakin meningkat ke jenis-jenis yang ‘menyeramkan’ macam tarantula dan sparassid.

Setahu saya, belum ada panduan lengkap tentang laba-laba di Indonesia. Jadi identifikasi sampai famili saja nampaknya sudah cukup susah. Dan memang tidak semua laba-laba dapat diidentifikasi hanya dengan mengamati secara langsung. Beberapa famili berikut mungkin relatif mudah dikenal:
Pholcidae (cellar spider) - memiliki tungkai-tungkai sangat panjang, membangun sarang di sekitar rumah, menggoyang sarang dengan keras jika merasa terganggu
Theridiidae (cob-web weavers) - laba-laba kecil keluarga black widow, sarang berbentuk tongkol, terkadang dilengkapi shelter yang terbuat dari potongan daun yang berbentuk kerucut
Araneidae, Tetragnathidae, dan Nephilidae (kelompok orb web) –, sarang berbentuk radial, sangat umum
Salticidae (jumping spider) – ukuran kecil sampai sedang, ciri khasnya memiliki 2 mata median anterior yang jauh lebih besar dari mata yang lain; dan seperti namanya, mereka meloncat dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka mudah ditemukan karena gaya hidup diurnal, memiliki mobilitas yang tinggi, memburu mangsa tanpa menggunakan jerat
Lycosidae (wolf spider) – biasa hidup di sawah, memburu serangga seperti wereng, ciri khas 2 mata median posterior ekstrim lebih besar.
Oxyopidae (lynx spider) - laba-laba kecil dengan susunan mata hexagonal, tungkai dengan spinae (semacam duri) panjang, gaya hidup pemburu mirip lycosid tetapi menyukai tajuk-tajuk rumput atau herba sebagai tempat menunggu mangsa.
Thomisidae (crab spider, flower spider) – relatif besar, memiliki tungkai-tungkai menyerupai kepiting, dengan abdomen besar, warna-warna cerah seperti kuning dan hijau, mata pada tuberkulus.
Sparassidae (huntsman) – sering ditemukan di dalam rumah, ukuran relatif besar
Theraphosidae (tarantula) – keluarga tarantula, hidup menggali lubang di tanah, di depan sarang diselubungi benang-benang halus.

Mereka yang mirip dengan laba-laba:
Opiliones (daddy long-legs, harvestmen) - mirip dengan cellar spider dilihat dari tungkai-tungkai yang ekstrim panjang. Hanya saja Opiliones merupakan ordo tersendiri, dengan ciri pembeda yang paling mudah yaitu tidak ada batas jelas antara cephalohorax dan abdomen (pada laba-laba ada tangkai pedisel)
Amblypygi (whip-spider), - dapat dibedakan dari abdomen yang berbuku-buku, pedipalp besar-raptorial, dan sepasang tungkai pertama mengalami modifikasi menjadi kaki antena

Poto: siapa tahu ada sparassid macam ini di bawah bantal Anda...

Laba-laba vs Serangga

Laba-laba jelas-jelas bukan serangga.
Di kalangan masyarakat sering terjadi salah kaprah yang menempatkan laba-laba sebagai bagian dari serangga. Padahal laba-laba dan serangga sangat berbeda dalam berbagai hal. Mudahnya dilihat dari morfologi, berikut perbedaan antara laba-laba dan serangga.

Laba-laba
- Tubuh terdiri dari 2 bagian, cephalotorak dan abdomen
- Kaki 4 pasang
- Alat mulut berupa chelicera
- Tidak ada antena

Serangga
- Tubuh terdiri dari tiga bagian; kepala, thorak, dan abdomen
- Kaki 3 pasang
- Alat mulut bervariasi, disesuaikan dengan tipe makanan
- Sepasang antena